Monday, 17 January 2022

 

Dasar Ontologis Pancasila

 

 

Tetapi secara esensial Pancasila telah berada dalam ranah mendalam

jiwa hati manusia-manusia Indonesia yang kaya akan tradisi luhur jauh sebelum itu.

Pancasila adalah identitas filosofis–kultural jiwa bangsa.

(Armada Riyanto, Berfilsafat Politik, 134)

 

 

 

            Di kampung saya mereka yang masih berada dalam aliran kepercayaan (aluk todolo), masih melakukan ritual penyembahan kepada yang ilahi. Mereka tidak mempunyai kuil sebagai tempat khusus untuk pelaksanaan ritual, karena kosmos bagi mereka adalah simbol kehadiran yang ilahi. Saya ingin menunjukkan bahwa Pancasila sebagai nilai, telah ada dalam jiwa hati nurani bangsa Indonesia. Berketuhanan yang berkebudayaan telah dipahami sejak dulu oleh orang-orang yang ada di nusantara. Artinya, Pancasila telah lama dihidupi dalam keseharian masyarakat sebelum ada yang bernama Indonesia. Sayangnya, Pancasila hari ini hanya dipandang sebagai ideologi, bahkan sebagian orang menyebutnya sebagai hasil kompromi dari berbagai pertarungan ideologi yang muncul. Ada tiga kelompok besar yang sering kali menjadi rujukan dari munculnya Pancasila yakni kelompok Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.

Pertanyaan serius adalah, apakah pancasila memang lahir dari hasil kompromi berbagai ideologi? Melihat manusia Indonesia yang hidup dalam keanekaragaman budaya, rasanya terlalu sederhana untuk menyatakan bahwa pancasila adalah kompromi dari berbagai ideologi. Secara mendalam dapat dikatakan bahwa pancasila adalah sebuah refleksi filosofis yang telah melahirkan identitas yang mewakili semua golongan, suku dan ras.

Tulisan ini akan mengurai Pancasila sebagai sebuah penemuan luar biasa yang mampu memersatukan bukan hanya ideologi, tetapi berbagai perbedaan yang ada di nusantara. Artinya pancasila tidak hanya sekadar ideologi, tetapi melampaui, karena dia lahir dari tradisi yang telah ada. Pancasila tidak lahir dari apa yang tidak ada, tetapi apa yang telah dihidupi oleh masyarakat yang ada di nusantara.   

 

Lahir dari Pencarian yang Dalam

            Pancasila lahir dari sebuah pencarian yang dalam, yang tidak hanya mewakili golongan tertentu, tetapi mewakili seluruh bangsa. Soekarno secara tegas menyatakan bahwa pencarian ini sangat dalam.

           

Jadi. Saya menggali itu dalam sekali, sampai ke saf pra-Hindu. Datang saf zaman Hindu, yang di dalam bidang politik berupa negara Taruma, negara Kalingga, negara Mataram kesatu, negaranya Sanjaya, negara Empu Sendok, negara Kutai, berupa Sriwijaya dan lain sebagainya. Datang saf lagi, saf zaman kita mengenal agama Islam, yang di dalam bidang politik berupa negara Demak Bintoro, negara Pajang, negara Mataram kedua, dan seterusnya. Datang saf lagi, saf yang kita kontak dengan Eropa, yaitu saf imperialis. Saya lantas gogo (gogo itu seperti mencari ikan, di lobang kepiting) sedalam-dalamnya sampai menembus zaman imperialis, menembus zaman Islam, menembus zaman Hindu, masuk ke dalam zaman pra-Hindu.[1]

 

            Pencarian yang dalam membuat Pancasila dapat mewakili semua golongan di nusantara. Pencarian yang dalam ini tidak melahirkan sebuah identitas primordial yang hanya mewakili kelompok mayoritas secara agama atau suku, tetapi pencarian yang dalam telah melahirkan sebuah konsep filosofis yang menjadi identitas bersama. Pancasila sebagai identitas masyarakat Indonesia datang dari apa yang telah dihidupi dalam kearifan lokal masyarakat. Pancasila tidak lahir dari apa yang tidak ada, tetapi lahir dari apa yang telah ada dalam keseharian masyarakat nusantara. Soekarno menyebut bahwa:

 

            Kalau kita mau masukkan elemen-elemen yang tidak ada dalam jiwa Indonesia tak mungkin dijadikan dasar untuk duduk di atasnya. Misalnya, kalau kita ambil elemen-elemen dari alam pikiran Eropa atau alam pikiran Afrika, itu adalah elemen asing bagi kita yang tidak in concordantie dengan jiwa kita sendiri. Tak akan bisa menjadi dasar yang sehat, apalagi dasar yang harus mempersatukan.[2]

 

Soekarno memerjelas bahwa dasar yang sehat hanya terdapat dalam jiwa bangsa Indonesia sendiri, bukan dari alam berpikir yang asing bagi bangsa. Pancasila berasal dari alam berpikir bangsa Indonesia, karena itu Pancasila tidak asing dan menjadi dasar yang sehat. Pancasila lahir dari budaya bangsa dari kearifan-kearifan lokal yang ada di nusantara.

 

Demikian pula secara kultural dasar-dasar pemikiran dan orientasi Pancasila pada hakikatnya bertumpu pada budaya bangsa. Nilai-nilai Pancasila pada dasarnya terdapat secara fragmentaris dan sporadis dalam kebudayaan bangsa yang tersebar di seluruh Kepulauan Nusantara, baik pada abad-abad sebelumnya, maupun pada abad kedua puluh, di mana masyarakat Indonesia telah mendapatkan kesempatan untuk berkomunikasi dan berakulturasi dengan kebudayaan lain. oleh karena itu Pancasila mencerminkan nilai-nilai budaya, baik tradisional maupun modern.[3]

 

Pandangan ini memberi pengakuan terhadap nilai-nilai Pancasila yang telah ada dalam hidup keseharian masyarakat. Nilai-nilai yang tersebar dalam budaya lokal masyarakat menjadi dasar untuk membentuk konsep yang disebut Pancasila. Nilai-nilai tersebut kemudian dirumuskan dalam lima konsep yakni:

 

Ketuhanan, Kebangsaaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial, saya lantas berkata: kalau ini saya pakai sebagai dasar statis dan Leitstar dinamis, insyaallah, seluruh rakyat Indonesia bisa menerima, dan di atas dasar meja statis dan Leitstar dinamis itu rakyat Indonesia seluruhnya bisa bersatu padu.[4]

 

            Kelima sila di atas, telah ada dalam masyarakat nusantara sebelumnya. Kelima sila menjadi fondasi dan tujuan hidup bangsa Indonesia, yang disebut oleh Soekarno dalam satu sila yakni gotong royong. “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong’.”[5] Sila-sila ini statis sekaligus dinamis. Statis karena dia menjadi fondasi yang tidak boleh berubah, dan dinamis karena dia menjadi tujuan untuk mencapai Indonesia yang lebih beradab. “Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang penuntun (leitstar) yang dinamis, yang mengarahkan bangsa dalam mencapai tujuannya.”[6] Sila ketuhanan yang berkebudayaan misalnya, telah lama dimaknai oleh masyarakat tradisional dalam relasi dengan yang ilahi. Soekarno menyebut dalam pidato 1 Juni 1945 bahwa:

 

Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang belum ber-Tuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad saw, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”.[7]

 

            Setiap orang ber-Tuhan berdasarkan kepercayaannya, dan membangun relasi dengan Tuhannya dengan cara mereka masing-masing. Yudi Latif menyebut bahwa: “Yang ditekankan di sini bukan tuhannya apa-karena itu urusan keyakinan agama masing-masing, melainkan “ketuhanannya”, yakni sikap “menuhan”; berproses meniru, mendekati, dan menjiwai sifat cinta kasih Tuhan.”[8] Sila ketuhanan tidak seperti yang telah ditafsirkan secara keliru oleh orde baru dengan memberi pengakuan terhadap lima agama, dan tidak memberi ruang pada aliran-aliran kepercayaan. Penafsiran tersebut telah meruntuhkan fondasi nilai dari Pancasila. Runtuhnya fondasi nilai, adalah rapuhnya masyarakat. Masyarakat tidak mungkin dipaksakan untuk hidup dalam nilai palsu yang tidak merefleksikan hidup mereka.

            Pancasila sebagai nilai yang dihidupi oleh masyarakatnya tidak mungkin untuk diberi tafsir baru berdasarkan kepentingan politik. Menafsirnya berdasarkan kepentingan politik, akan membuatnya menjadi rapuh. Kerapuhan nilai sama dengan kerapuhan masyarakat, bangsa dan negara. Pancasila menjadi hidup ketika setiap manusia mampu menunjukkan identitasnya, bukan dipaksa dalam keseragaman. Seragam cara berpikirnya, seragam budayanya, dll. Perbedaan yang ada justru menunjukkan fondasi nilai Pancasila yang sejati. Pancasila tidak lahir dari sebuah kesamaan agama, budaya atau ideologi, tetapi lahir dari perbedaan. Perbedaan yang ada justru telah melahirkan identitas sebuah bangsa dengan memfondasikan diri pada Pancasila. Keunikan Pancasila justru terletak pada sikap untuk memberi ruang terhadap perbedaan yang ada. Mengapa? Karena Pancasila lahir dari ruang yang penuh dengan kepelbagaian.

            Bisa dikatakan bahwa yang tidak memberi ruang terhadap perbedaan, adalah mereka yang tidak memahami nilai-nilai Pancasila. Pertanyaannya adalah, apakah ruang perbedaan ini berlaku bagi para kelompok yang menebar teror? Ruang perbedaan yang ada, adalah ruang yang masih menjadikan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi. Seperti diungkapkan Soekarno ketika mengafirmasi apa yang dikatakan Gandi bahwa, saya seorang nasionalis, tetapi nasionalisme saya adalah perikemanusiaan (my nationalism is humanity). Kelompok-kelompok radikal yang menebar teror dengan demikian tidak bisa diberi ruang untuk hidup di negara Pancasila. Kelompok-kelompok radikal tidak sesuai dengan roh Pancasila yang menerima perbedaan. Pancasila yang lahir dari nilai-nilai gotong royong, tentu menolak tindakan radikal yang mengancam keutuhan bangsa.

 

 

Pancasila bukan Kompromi Ideologi

Apakah pancasila adalah kompromi ideologi? Pancasila sebagai jiwa bangsa yang lahir dari nilai-nilai kearifan lokal, tidak tepat disebut sebagai kompromi dari berbagai ideologi. Tidak tepat, karena Pancasila lahir dari nilai-nilai yang telah dihidupi oleh masyarakat nusantara. 

 

Dalam arti ini, Pancasila tidak pernah merupakan produk kompromi kelompok-kelompok apa pun. Dalam makna sebagaimana dimaksudkan oleh pencetusnya, Pancasila bukan pertama-tama sebuah ideologi (semacam “agama” negara) melainkan identitas dan fondasi ontologis-eksistensial bangsa. Pergumulan pencarian Soekarno sepenuhnya terarah kepada konsep filosofis tradisi luhur yang menyatukan dan memerdekakan.[9]

 

Pancasila sebagai fondasi ontologis-eksistensial melekat dalam diri bangsa Indonesia. Pancasila tidak hanya sekadar konsep, tetapi telah dihidupi oleh masyarakat dalam budaya mereka masing-masing. Pancasila tidak dilahirkan untuk mengakomodir golongan-golongan tertentu, tetapi Pancasila ada untuk semua golongan tanpa sekat. Jika Pancasila hanya hadir untuk mengakomodir perbedaan ideologi dari golongan/kelompok tertentu, Pancasila menjadi rapuh. Rapuh karena dia lahir bukan dari pergulatan batin atas nilai-nilai yang ada, tetapi lebih untuk memuaskan kepentingan kelompok tertentu.

Pancasila bukan ideologi yang diimpor dari luar atau datang dari langit, tetapi dari nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat. Pancasila tidak terhisap oleh satu ideologi tertentu, karena Pancasila adalah roh yang telah hidup dalam keseharian masyarakat sebelum Indonesia ada.

           

Menurut Soekarno, kekacauan akan terjadi bila bangsa ini memeluk secara buta ideologi-ideologi “importiran”. Karena itu, ia menyebut Pancasila bukan individualisme. Bukan komunisme. Bukan fasisme. Bukan pula Islamisme atau Kristianisme atau segala “isme” yang berkaitan dengan ideologi/agama apa pun.[10]

 

            Negara ini mungkin telah lama hancur sekiranya dibangun atas dasar ideologi tertentu. Ideologi yang tidak dihidupi oleh masyarakat akan menjadi rapuh. Rapuh karena ideologi tersebut bisa mengkonstruksi identitas manusia yang hidup dalam nilai-nilai tertentu. Pancasila tidak lagi mengkonstruksi manusia Indonesia menurut ideologi Pancasila. Karena orang-orang Indonesia yang hidup dalam ideologi Pancasila menghidupi Pancasila sejak dulu. Ini yang disebut oleh Soekarno sebagai jiwa bangsa. “Dan, ‘jiwa’ inilah yang dia gali dari dalam diri bangsa Indonesia itu sendiri, Kristalisasi ‘jiwa’ ini ialah sila–sila dalam Pancasila. Tanpa Pancasila, Indonesia pasti menjadi bangsa yang tak punya ‘jiwa’.”[11]

            Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia, jiwa bangsa adalah itu yang menggerakkan manusia menuju pada satu tatanan hidup berbangsa yang beradab. Negara tanpa jiwa adalah negara yang rapuh, itu sebabnya negara harus dibangun jiwanya. Pancasila sebagai jiwa bangsa, tidak hanya dilihat sebagai ideologi, tetapi melampaui ideologi. Sebagai ideologi, maka Pancasila hanyalah ide/gagasan/cara berpikir yang akan memaksa setiap individu untuk mengikuti ideologi tersebut. Pancasila melampaui ideologi, karena dia bukan hanya ide/konsep/cara berpikir yang mengarahkan setiap individu, tetapi dia adalah nilai yang hidup dan menggerakkan setiap individu untuk bergerak bersama dalam mencapai tujuan. Pancasila menjadi jiwa yang menggerakkan setiap orang pada satu tujuan. Tujuan bersama ini tidak datang dari luar, tetapi datang dari dalam nilai-nilai bangsa Indonesia. Nilai yang lahir dari dalam ini kita sebut sebagai jiwanya bangsa Indonesia, karena jiwa ada di dalam bukan di luar.

Jiwa adalah penggerak dari dalam bukan dari luar. Sesuatu yang menggerakkan dari luar, justru seringkali bertentangan dengan apa yang dikehendaki jiwa. Itu sebabnya Pancasila tidak bisa disebut sebagai kompromi ideologi, sebab dia tidak datang dari luar bangsa Indonesia, tetapi datang dari dalam diri bangsa Indonesia. Karena itu Pancasila disebut sebagai jiwanya bangsa Indonesia, karena Pancasila lahir dari refleksi nilai-nilai yang ada di nusantara. Itu sebabnya mereka yang berbeda ideologi tetap akan saling menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Yudi Latif dalam buku “Mata Air Keteladanan” mengurai bagaimana Pancasila dihidupi oleh tokoh bangsa, misalnya:

 

M. Natsir yang puritan dan tokoh Islam dari Masyumi bisa minum teh bersama dengan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) D.N. Aidit di kantin parlemen. Bahkan setelah berdebat panas di Konstituante, Natsir dan Aidit bisa makan sate bersama di kantin. Padahal paham politik keduanya sangat berbeda tajam, ibarat minyak dan air. Tetapi sebagai sesama manusia, keduanya saling menghormati dan menghargai dalam ikatan persahabatan.[12]

 

Apa yang ditunjukkan oleh para tokoh bangsa ini memerlihatkan bahwa nilai-nilai Pancasila melekat dalam diri mereka. Perbedaan pandangan tidak membuat mereka menjadi musuh, tetapi justru perbedaan membuat mereka menjadi teman diskusi. Penghayatan mereka akan Pancasila, memerlihatkan bahwa mereka tidak hanya melihat Pancasila sekadar sebuah ideologi, tetapi melihatnya sebagai yang mewakili identitas mereka sebagai anak bangsa. Pancasila sebagai nilai yang dihidupi membuat orang bisa berbeda, tetapi tetap mengedepankan kemanusiaan sebagai yang utama. Seperti halnya dikutip oleh Yudi Latif dalam tempo 2011:58-59:

 

Dalam mengembangkan sikap saling menghargai, Kiai Hasjim bisa menentukan secara dewasa kapan bisa berbeda dan kapan bisa tetap saudara. Urusan politik tidak dicampuradukkan dengan urusan (hubungan) pribadi. Beliau pernah menegur istrinya, Solehah, karena menolak memberi tumpangan kepada seorang anggota konstituante yang menyudutkan Kiai Hasyim dalam sidang. Dengan jernih Pak Kiai mengingatkan istrinya. “urusan pekerjaan dan pribadi tak bisa dicampur aduk,” ujarnya.[13]

 

Pandangan Kiai Hasjim ini, tidak hanya memerlihatkan sikap tolerannya terhadap perbedaan, tetapi menunjukkan betapa dia benar-benar memaknai Pancasila bukan sekadar ideologi pemersatu. Pancasila yang mereka yakini, adalah Pancasila yang hidup dalam jiwa mereka, bukan Pancasila yang hanya menekankan nasionalisme dan melupakan humanisme. Para tokoh bangsa ini benar-benar menjadi panutan dalam memaknai Pancasila, sehingga perbedaan pandangan tidak menghilangkan nilai kemanusiaan. Mereka benar-benar telah menjadi kaum nasionalis yang mengedepankan kemanusiaan. Tidak ada masalah antara kaum Nasionalis dengan kaum Islamis, atau antara kaum Islamis dengan kaum Marxis. Mereka semua menyatu dalam satu kesatuan tanpa peduli apa ideologi mereka. Mereka tidak dipersatukan karena ideologi mereka diakomodir oleh Pancasila, tetapi karena nilai-nilai kearifan yang telah membentuk mereka. Itu sebabnya mereka dapat bersatu, sekalipun berbeda ideologi. Soekarno menyebut bahwa:

 

Apakah nasionalisme itu dalam perdjoangan–djadjahan bisa bergandengan dengan islamisme jang dalam hakekatnja tiada bangsa, dan dalam lahirnya dipeluk oleh bermatjam-matjam bangsa dan bermatjam-matjam ras;-apakah Nasionalisme itu dalam politik kolonial bisa rapat-diri dengan Marxisme jang internasional, interrasial itu? Dengan ketetapan hati kita mendjawab: bisa![14]

 

Keyakinan Soekarno tentu didasarkan pada sebuah keyakinan berdasarkan pengalaman eksistensialnya. Bahwa kelompok nasionalis bisa menyatu dengan kelompok yang ber-ideologi berbeda adalah hal yang bisa terjadi karena mereka sama–sama mencintai kemanusiaan. Kaum nasionalis yang ada adalah kelompok nasionalis yang menghargai kemanusiaan, itu yang memudahkan mereka dapat menyatu dengan kelompok lainnya. Soekarno menyebut bahwa:

 

Nasionalis jang sedjati , jang nasionalismenja itu bukan semata-mata suatu copie atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa tjinta akan manusia dan kemanusiaan,-nasionalis jang menerima rasa-nasionalismenja itu sebagai suatu wahju dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti, adalah terhindari dari segala faham keketjilan dan kesempitan.[15]

 

Kecintaan pada kemanusiaan menjadi fondasi untuk mengikat kebersamaan dalam perbedaan-perbedaan ideologi. Tidak mengherankan jika kemudian Natsir dan Aidit masih bisa makan sate bersama sekalipun tidak pernah berhenti berdebat karena perbedaan ideologi. Mereka semua lebih mengedepankan kemanusiaan dan bukan kepentingan ideologi. Berbeda dengan para politisi hari ini yang berdebat di parlemen dan keluar parlementer dengan makian. Kemanusiaan menjadi hal yang tidak penting, tetapi yang paling penting adalah kekuasaan. Sekalipun mereka berada dalam satu ideologi yang sama yakni Pancasila, tetapi sikap mereka jauh dari sikap bersila (sesuai kata dan tindakan). Politisi hari ini menjadi politisi oportunis yang tidak lagi memahami nilai-nilai Pancasila, karena Pancasila hanya dijadikan alat legitimasi kepentingan kelompok. 

 

Rasa Senasib adalah Fondasi Persatuan

            Persatuan bisa terjadi karena ada yang memersatukan, seperti halnya Pancasila bisa diterima oleh semua golongan karena dia mampu mengakomodir berbagai nilai kearifan yang ada. Rasa persatuan yang dialami oleh para tokoh bangsa tidak lepas dari rasa senasib sebagai bangsa yang tertindas. Soekarno menyebut bahwa:

           

Maka tak boleh kita lupa, bahwa manusia-manusia jang mendjadikan pergerakan Islamisme dan pergerakan Marxisme di Indonesia-kita ini, dengan manusia-manusia yang mendjalankan pergerakan Nasionalisme itu semuanja mempunjai “keinginan hidup mendjadi satu”;- bahwa mereka dengan kaum Nasionalis itu merasa “satu golongan, satu bangsa”;-bahwa segala fihak dari pergerakan kita ini, baik Nasionalis maupun Islamis, maupun pula Marxis, beratus-ratus tahun lamanja ada “persatuan hal-ichwal”, beratus-ratus tahun lamanja sama-sama bernasib tak merdeka! Kita tak boleh lalai, bahwa teristimewa “persatuan hal-ichwal”, persatuan nasib, inilah jang menimbulkan rasa “segolongan” itu.[16]

 

            Soekarno secara spesifik menyebut bahwa rasa senasib inilah yang menimbulkan rasa segolongan. Senasib sebagai bangsa terjajah, membuat para tokoh bangsa mampu menyatu dalam perbedaan-perbedaan yang ada. Rasa senasib ini menunjukkan sikap batin yang sama, di mana mereka semua mempunyai kerinduan untuk merdeka. Perasaan se-nasib dengan demikian bukan persoalan sederhana, tetapi mau menunjukkan sikap terdalam dari diri manusia-manusia Indonesia, bahwa mereka mencintai kemerdekaan. Mencintai kemerdekaan adalah mencintai nasionalisme, dan pencinta nasionalisme hanyalah orang-orang yang memberi ruang untuk kemanusiaan. Ini kemudian yang disebut Soekarno bahwa, rasa senasib menimbulkan rasa “segolongan”. Itu sebabnya para tokoh bangsa tidak pernah memersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada, karena mereka sama-sama digerakkan oleh perasaan senasib akan bangsa.

            Sekalipun para tokoh bangsa mempunyai pandangan ideologi yang berbeda, tetapi mereka tetap menyatu dalam satu tujuan. Mereka berada dalam satu ruang yang sama, yang menghargai dan mencintai kemanusiaan. Nasionalisme mereka bukan nasionalisme yang sempit, tetapi nasionalisme yang memberi ruang untuk kemanusiaan. Nasionalisme seperti ini yang kemudian sulit untuk kita temukan hari ini. Nasionalisme hari ini, hanya menjadi nasionalisme yang menjadi alat legitimasi untuk mengeksploitasi sumber daya alam dalam sebuah wilayah. Tidak heran jika kemudian Papua bergejolak meminta untuk merdeka, karena merasa tidak diberi perhatian oleh negara. Tidak ada lagi perasaan senasib, tetapi yang ada adalah masing-masing menentukan nasibnya sendiri. Pancasila menjadi kehilangan roh, karena Pancasila tidak lagi menjadi nilai yang membuat orang merasa mempunyai perasaan yang sama dengan saudaranya yang menderita dan miskin.

Pada sisi yang lain, kesenjangan sosial yang ada justru menjadi tontonan, dan bukan justru dilihat sebagai sebuah masalah. Tontonan itu dipertontonkan untuk menjadi alat kepentingan politik, yang membuat orang miskin dijadikan sebagai alat kepentingan politik. Para politisi sampai LSM menjadikan orang miskin sebagai panggung untuk kepentingan mereka. Situasi yang sangat berbeda dengan para tokoh bangsa yang justru melihat berbagai fenomena sebagai bagian dari diri mereka untuk diperjuangkan. Pancasila hanya akan menjadi sakti ketika, anak-anak bangsa menjadikan rasa kemanusiaan sebagai yang utama. Bukan justru menjadi pejuang kemanusiaan yang tidak manusiawi. Menjadi benar apa yang disampaikan Soekarno bahwa, “perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Persatuan kita menjadi rapuh, bukan karena kita tidak punya ideologi, tetapi karena kita tidak lagi mau merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain. Rapuhnya Pancasila bukan karena banyaknya paham/ideologi yang muncul, karena di era revolusi pun ada banyak perbedaan ideologi, tetapi para tokoh bangsa ini masih bisa menyatu. Kerapuhan bangsa ini salah satunya adalah, tidak ada perasaan senasib yang dimiliki oleh bangsa ini. Para politisi bahkan melakukan korupsi secara berjamaah, dan tidak lagi memikirkan nasib saudara-saudaranya yang miskin. Pancasila seperti tidak lagi dihidupi sebagai sebuah nilai, tetapi dipandang sebagai ideologi yang tanpa makna. Pancasila sekadar menjadi ritual-ritual dalam acara kenegaraan, tetapi dia telah kehilangan rohnya. Kondisi ini membuat bangsa kita menjadi bangsa yang rapuh, bangsa yang tidak lagi memiliki roh. Tidak heran jika para koruptor masih dapat tersenyum ketika mereka memakai rompi oranye (rompi tahanan KPK). Seperti tidak ada perasaan bersalah pada diri mereka yang telah membuat rakyat menjadi sengsara.

            Nilai gotong royong pun memudar akibat hilangnya perasaan senasib sebagai anak-anak bangsa. Tidak adanya perasaan senasib membuat rakyat tidak lagi memperdulikan apa yang dialami oleh saudara-saudaranya. Sepertinya setiap orang hanya memerhatikan kelompoknya dan tidak peduli terhadap mereka yang berbeda pandangan. Setiap orang seperti sedang memerjuangkan dirinya dan kelompoknya. Tidak menjadi aneh ketika salah satu universitas ternama di Indonesia yang dibiayai oleh negara (Universitas Padjadjaran Bandung) memberi beasiswa dengan kriteria (prioritas) mampu membaca Al Qur-an minimal lima Juz.[17] Ini jelas bertentangan dengan Pancasila, membuka ruang diskriminasi untuk kelompok agama yang berbeda. Fenomena ini memerlihatkan betapa negara ini mengalami kerapuhan dalam memaknai Pancasila. Pancasila seperti slogan kosong tanpa roh.

 

Bergesernya Nilai Pancasila

            Melihat fenomena yang ada sekarang ini, dapat dikatakan bahwa nilai-nilai Pancasila telah bergeser jauh dari fondasinya. Pergeseran ini tidak hanya terlihat pada sikap diskriminatif oleh kampus negeri seperti di atas, tetapi juga pada sikap intoleran yang dilakukan oleh kelompok fundamental yang mengatasnamakan agama. Pada 23 September 2016, Front Pembela Islam (FPI) menyerbu Gereja Toraja Bunturannu di Makassar, karena melarang untuk merenovasi gereja. Tiga hari kemudian, pada 25 September 2016, pukul 20.30 Wita, Gereja Toraja, Jalan Gunung Bawakaraeng-Makassar, diserang orang tak dikenal. Pada tingkat nasional terlalu sering kita mendengar partai dakwah seperti PKS yang justru tidak henti memerjuangkan syariat Islam. Lebih memprihatinkan ketika Aceh yang merupakan bagian dari Republik diberi kewenangan khusus oleh negara untuk menjalankan hukum syariat islam. “Orang yang mau beribadat menurut cara yang tidak berkenan pada tetangganya dicaci maki, diancam bahkan diusir.[18]

Fenomena yang ada ini, memerlihatkan bahwa Pancasila berada dalam kerapuhan. Nilai-nilai gotong royong yang mestinya diberi ruang sekarang justru menjadi sesuatu yang tidak jelas. Nilai-nilai ini telah digantikan oleh doktrin-doktrin baru yang begitu mudahnya menebar kebencian terhadap mereka yang berbeda pandangan. Kata “kafir” menjadi sesuatu yang secara tajam mulai diangkat untuk membuat distingsi ber-Tuhan dan tidak ber-Tuhan. Mereka yang menyebut diri sebagai tokoh bangsa pun justru terlibat dalam pertarungan politik yang tidak sehat dengan ikut mengkafirkan mereka yang berbeda keyakinan. Pluralisme terancam dalam situasi seperti ini. Keterancaman ini adalah ancaman bagi Pancasila. “Bagi Indonesia yang begitu majemuk pluralisme merupakan syarat eksistensinya.”[19]

Jika pluralisme adalah syarat eksistensi, maka hidup dalam negara pancasila harus selalu memberi ruang bagi setiap perbedaan. Di sana ada kesediaan untuk saling menerima perbedaan/ keunikan yang ada pada diri setiap individu. Mereka yang tidak menghargai keunikan pada diri setiap orang, maka ini bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Karena Pancasila lahir dari kepelbagaian yang ada di nusantara. Pancasila tidak lahir dari doktrin, atau pandangan tertentu, tetapi dia lahir dari perbedaan. Kesediaan untuk hidup bersama dan menghargai keunikan menjadi sesuatu yang penting. Franz Magnis Suseno menyatakan:

 

Maka aktualisasi nilai-nilai Pancasila tak lain berarti aktualisasi kesediaan seluruh komponen masyarakat yaitu: masyarakat/rakyat sendiri dari Sabang sampai Merauke maupun lembaga/institusi/organisasi dalam masyarakat, baik yang bersifat politik, termasuk semua partai politik, maupun civil society, khususnya agama-agama dengan organisasi dan artikulasi lain mereka untuk menerima kenyataan bahwa Indonesia itu sebuah pluralitas, artinya, saling menerima dalam kekhasan masing-masing.[20]

 

            Pluralitas yang ada ini menjadi hal yang harus dihormati oleh mereka yang hidup dalam negara Pancasila. Sikap tidak hormat terhadap berbagai keunikan yang ada, menunjukkan ketidakpahaman terhadap nilai Pancasila, tetapi mereka yang memahami akan memberi hormat terhadap perbedaan yang ada. Tidak menghargai perbedaan sama dengan meruntuhkan fondasi Pancasila, karena Pancasila merupakan fondasi untuk menata tatanan hidup menjadi lebih baik. Armada Riyanto menyebut bahwa:

 

Pancasila identik dengan filsafat emansipatoris (yang membebaskan) manusia-manusia Indonesia dalam konteks kulturalitas dan religiusitas sendiri yang luar biasa plural. Pancasila adalah fondasi tata hidup bersama yang menginspirasikan pembebasan dari alienasi satu sama lain dalam lautan keanekaragaman suku, budaya, tradisi, agama yang kaya.[21]

 

            Pancasila sebagai fondasi filosofis bangsa, menuntun manusia-manusia yang ada di dalamnya untuk selalu menempatkan perbedaan sebagai jalan menuju kebersamaan. Perbedaan/keunikan bukan untuk dipertentangkan, siapa yang paling baik, tetapi justru dari perbedaan kita belajar tentang kekurangan dan kelebihan yang lain. Pancasila telah menyatukan perbedaan itu menjadi satu kekuatan untuk membangun bangsa. Bergesernya nilai-nilai Pancasila salah satu penyebabnya karena manusia yang ada di dalamnya tidak menghargai perbedaan. Ada kelompok-kelompok tertentu yang menjadikan diri mereka sebagai tuhan atas sesamanya. Kelompok ini dengan mudah melakukan kekerasan atas nama doktrin agama yang mereka yakini sebagai kebenaran tunggal. Pancasila sesungguhnya terancam oleh kelompok-kelompok fundamentalis yang sering memaksakan kehendak dan bertindak sendiri. Sebagian kelompok yang merasa ter-diskriminasi merasa terancam berada dalam rumah mereka sendiri. “Hanya kalau semua komponen di Indonesia merasa seperti di rumah sendiri, apabila identitas mereka masing-masing terjamin, mereka akan bersama terus.”[22]

            Indonesia adalah rumah bersama, bukan rumah segelintir orang. Ketika Pancasila dijadikan sebagai dasar bersama, maka serempak kita sedang memberi pengakuan akan semua identitas yang berbeda. Pengakuan akan perbedaan ini adalah nilai yang sesungguhnya telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakat nusantara. Sayangnya, kelompok-kelompok fundamental merusak nilai-nilai tersebut dengan melakukan berbagai tindakan kekerasan atas nama agama. Pancasila yang menjadi fondasi seperti kehilangan sayap untuk terbang, akibat dari nilai-nilai kebersamaan tidak lagi dihargai.

 

Refleksi

            Pancasila adalah identitas bangsa Indonesia, identitas yang harusnya menjiwai aspek keseharian masyarakat Indonesia. Mengapa identitas itu harus menjiwai keseharian masyarakat? Identitas yang tidak menjiwai hidup keseharian masyarakat menjadi identitas yang kabur. Jika masyarakat Indonesia hidup dalam identitas yang jelas, hidup berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Menjadi baik karena tidak ada manusia–manusia yang mengklaim kebenarannya sendiri, dan menganggap dirinya berhak untuk menjadi hakim bagi yang lain. Negara Pancasila adalah negara yang selalu memberi ruang untuk pandangan yang berbeda, sejauh pandangan yang berbeda itu tunduk pada penghargaan akan kemanusiaan. Artinya, tidak semua pandangan berbeda dapat hidup di negara Pancasila, jika pandangan itu akan menghancurkan tatanan hidup masyarakat. Kemanusiaan dengan demikian menjadi sesuatu yang sangat penting untuk memaknai nilai-nilai Pancasila. Memaknai nilai Pancasila berarti menghargai kemanusiaan, sebaliknya abai terhadap kemanusiaan sama dengan tidak memberi tempat terhadap Pancasila.

            Sikap inklusif, menjadi hal penting dalam negara Pancasila, keterbukaan dan penghargaan pada pandangan yang berbeda adalah keniscayaan. Pancasila yang lahir dari nilai-nilai kearifan lokal, selalu memberi ruang untuk relasi dengan yang lain. Relasi ini selalu mengandaikan adanya penghormatan bagi yang lain, sekalipun di sana ada perbedaan-perbedaan pandangan. Sikap terbuka terhadap yang lain menunjukkan sebuah sikap penghormatan terhadap kemanusiaan. Menghormati kemanusiaan sama artinya menghormati Pancasila sebagai identitas bangsa. Pancasila sebagai identitas bangsa selalu membuka ruang untuk setiap perbedaan yang ada. Identitas Pancasila adalah menghargai perbedaan, sehingga setiap manusia yang ada dalam bumi Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk menghadirkan kedamaian. Negara pun harus memastikan bahwa tidak ada kelompok tertentu yang menebar kebencian atas nama agama atau ideologi. Dalam negara Pancasila harus ada kepastian bahwa setiap orang tidak mendapatkan diskriminasi.

            Tidak adanya penghargaan terhadap kepelbagaian, sesungguhnya dapat dikategorikan sebagai sikap tidak memahami Pancasila. Pancasila jelas merupakan sebuah nilai yang mau membangun keutuhan bangsa dengan menunjukkan relasi antara sesama anak bangsa yang berbeda agama, suku, dan ras. Adanya relasi tersebut menjadi sebuah pengandaian bahwa tatanan hidup masyarakat berada dalam keharmonisan. Sebaliknya hilangnya relasi mengandaikan hancurnya nilai-nilai Pancasila. Kondisi sekarang ini memerlihatkan bahwa relasi dengan yang lain menjadi kabur, dan ini dapat terlihat dari masih adanya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Pancasila menjadi sakti bukan karena dia menjadi kekuatan pemaksa untuk membuat persatuan semu, tetapi ketika setiap masyarakat memahami nilai-nilai kearifan dari pancasila.

            Indonesia telah mengalami distorsi yang panjang di zaman orde baru, di mana Pancasila menjadi alat kekuasaan untuk memertahankan kekuasaan. Mereka yang berbeda pandangan/ideologi dihilangkan. Bahkan kelompok yang bersikap kritis terhadap negara dianggap makar, karena itu menghilangkan nyawa mereka adalah legal. Pancasila mengalami penyimpangan untuk membenarkan tindakan sekelompok orang. Mereka yang disebut Pancasilais adalah mereka yang tunduk pada kepentingan kekuasaan, sekalipun itu menindas dan tidak memberi ruang kebebasan. Pancasilais sekalipun tidak memberi ruang atas kemanusiaan. Semua ini merefleksikan betapa Pancasila hanya akan menjadi sakti jika negara senantiasa memberi ruang untuk berbagai perbedaan dan senantiasa mengedepankan kemanusiaan. Perbedaaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari, karena itu setiap orang harus selalu menghargai perbedaan yang ada.  

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

            Buku:

Armada Riyanto, Berfilsafat Politik, Yogyakarta: Kanisius, 2011.

______________(Ed), Kearifan Lokal Pancasila: Butir-butir filsafat keindonesiaan, Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Franz Magnis Suseno, Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme, Jakarta: Kompas, 2015.

Saafroedin Bahar dkk (peny), Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995.

Soekarno, Di bawah bendera revolusi, vol.1. Jakarta: Panitia di bawah bendera revolusi, 1964.

________, Filsafat Pancasila menurut Bung Karno,Yogyakarta: Media Pressindo, 2006.

________,  Revolusi Indonesia: Nasionalisme, Marhaen, dan Pancasila, (Penyunting: Pamoe Rahardjo dan Islah Gusmian), Yogyakarta: Galang Press, 2002.

Soerjanto Poespowardojo, FIlsafata Pancasila: Sebuah Pendekatan Sosio-Budaya, Jakarta: Gramedia, 1989.

Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, rasionalitas, dan aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia, 2011.

_________, Mata Air Keteladanan: Pancasila Dalam Perbuatan, Jakarta: Mizan, 2014.

 

Berita Online:

Heyder Affan, Syaratkan hafal Alquran untuk beasiswa, Jabar 'diskriminatif, www.bbc.com/indonesia, 3 Oktober 2016.

Reni Susanti. Unpad Tawarkan Beasiswa Salah Satu Syaratnya Tuai Kontroversi, Kompas.com, 5 Oktober 2016.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1]Sukarno, Revolusi Indonesia: Nasionalisme, Marhaen, dan Pancasila, (Penyunting: Pamoe Raharjo dan Islah Gusmian), Yogyakarta: Galang Press, 2002, hlm. 108.

[2]Soekarno, Filsafat Pancasila menurut Bung Karno,Yogyakarta: Media Pressindo, 2006, hlm. 108-109.

[3]Soerjanto Poespowardojo, FIlsafat Pancasila: Sebuah Pendekatan Sosio-Budaya, Jakarta: Gramedia, 1989, hlm. 5.

[4]Ibid., hlm. 108-109.

[5] Saafroedin Bahar dkk (peny), Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995, hlm. 82.

[6] Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, rasionalitas, dan aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia, 2011, hlm. 41.

[7]Saafroedin Bahar, Op.Cit., hlm. 80.

[8] Yudi Latif, Mata Air Keteladanan: Pancasila Dalam Perbuatan, Jakarta: Mizan, 2014, hlm. 4.

[9]Armada Riyanto, Berfilsafat Politik, Yogyakarta: Kanisius, 2011, hlm. 135.

[10]Ibid., hlm. 137.

[11] Armada Riyanto, Kearifan Lokal Pancasila Butir-Butir Filsafat “Keindonesiaan”, dalam Kearifan Lokal Pancasila: Butir-butir filsafat keindonesiaan. (Armada Riyanto dkk. Ed), Yogyakarta: Kanisius, 2015, hlm. 18.

[12] Yudi Latif, Air Mata Keteladanan, Op.Cit., hlm. 68-69.

[13]Ibid., hlm. 69-70.

[14]Soekarno, Di bawah bendera revolusi, vol.1. Jakarta: Panitia di bawah bendera revolusi, 1964, hlm. 4.

[15]Ibid., hlm. 5-6.

[16]Ibid., hlm.4.

[17] Reni Susanti, Unpad Tawarkan Beasiswa Salah Satu Syaratnya Tuai Kontroversi, diakses dari: http://regional.kompas.com/read/2016/10/05/14451171/unpad.tawarkan.beasiswa.salah.satu.syaratnya.tuai.kontroversi dan Heyder Affan, Syaratkan hafal Alquran untuk beasiswa, Jabar'diskriminatif,diakses dari:http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161002_indonesia_beasiswa_alquran

[18] Franz Magnis Suseno, Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme, Jakarta: Kompas, 2015, hlm. 46.

[19]Ibid., hlm. 103.

[20]Ibid., hlm. 106.

[21] Armada Riyanto, Op.Cit., hlm. 135-136.

[22] Franz Magnis Suseno, Op.Cit., hlm. 82-93.

Thursday, 24 December 2020

Yesus dan Causa Materialis: Refleksi Kelahiran Yesus

             



            Kelahiran Yesus selalu menjadi kontroversial, benarkah Allah bisa lahir dari tubuh material yang mortal? Tidak perlu menjawabnya secara serius, bukankah Allah bisa melakukan sesuatu berdasarkan kehendaknya. Dia bisa menjadi apa saja, sejauh dia berkendak, dia bisa menjadi kuda, sapi, pohon, buku dan menjadi manusia. Itu bukan hal yang aneh bagi Allah. Wong dia Allah mau jadi apapun ya bisa. Tetapi saya tidak tertarik mengurai panjang lebar tentang itu, tetapi akan mengurai bagaimana Allah dilahirkan sebagai manusia.

Apakah ada yang berbeda antara kelahiran Yesus dan manusia. Anak sekolah minggu akan menjawab ia, berbeda, Yesus dikandung dari Roh Kudus sedangkan manusia tidak. Secara lebih dalam apa sesungguhnya yang ingin dikatakan dalam narasi ini, dan di mana letak perbedaan yang sebenarnya?

Jika awal mula manusia secara biologis dalam Rahim seorang ibu berawal dari perjumpaan antara dua sel (sel telur dan sperma), dan kemudian menjadi embrio yang hidup dan terus berkembang. Dari proses awal mula kehidupan ini, menunjukkan kepada kita bahwa manusia berasal dari materi yang kita sebut sel. Manusia tidak tiba-tiba muncul dalam Rahim seorang ibu, tetapi ada penyebab material (causa materialis). Penyebab material adalah awal mula proses terbentuknya manusia. Bahkan proses pembuatan bayi tabung pun terjadi dengan menghadirkan dua materi tersebut (sel telur dan sel sperma). Di sana selalu ada causa materialis yang tidak dapat dihindari untuk menghadirkan seorang manusia.   

Bagaimana dengan kelahiran Yesus? Apakah kelahiran Yesus juga disebabkan oleh causa materialis? Narasi alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Yesus dikandung dari Roh Kudus. Bahkan alkitab secara detail menjelaskan bahwa Yusuf tidak pernah bersentuhan dengan Maria, sampai dia mengandung. Ini hal penting untuk menyampaikan bahwa tidak pernah ada perjumpaan antara sel telur dan sel sperma. Penegasan itu disampaikan oleh alkitab bukan tanpa alasan, tetapi untuk menyatakan bahwa Yesus bukan berasal dari suatu materi. Penyebab kelahiran Yesus bukan karena causa materialis. Meskipun Allah memakai tubuh material Maria untuk melahirkan Yesus, tetapi substansi dari keberadaan Yesus dalam Rahim Maria tidak terikat pada materi tertentu (tidak terikat pada sel telur dan sel sperma).

Mengapa Yesus tidak terikat pada materi? Jawabnya sederhana kata Yohanes, karena firman itu telah ada sebelum segala sesuatunya ada. Wahyu menyebutnya sebagai yang awal dan yang akhir. Bagaimana mungkin yang awal dan yang akhir terikat pada materi? Allah memakai tubuh Maria yang material, dan melahirkan seorang bayi dengan tubuh fisik seperti kita. Allah telah melakukan Mujizat inkarnasi (Allah menjadi manusia).       

Menurut Aristoteles, penyebab material  adalah factor yg menyebabkan ketidakmantapan dalam suatu benda. Manusia berasal dari materi tertentu, karena itu dalam dirinya ada ketidakmantapan. Dia menjadi mortal tetapi Yesus tidak, karena dia bukan dari materi tertentu. Ketidak mantapan dalam diri manusia menyebabkan dia terikat oleh ruang dan waktu. Tetapi Yesus tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu. Inkarnasi Allah menjadi manusia adalah enigma. 


 

Sunday, 5 July 2020

Melihat Solidaritas ilahi Dalam ketelanjangan Yesus Refleksi Jumat Agung atas Covid 19


Ketika mereka menyalibkan Yesus,
mereka membagi-bagikan pakaian-Nya di antara mereka
dengan membuang undi (Matius 27: 35).

Pada abad ke-19, konsep solidaritas menjadi sangat radikal, di bawah pengaruh Marx. Pemikiran ini ingin mengungkapkan solidaritas tanpa kelas, sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme. Dalam sejarah kekristenan mula-mula, ini bukan sesuatu yang baru. Gereja mula-mula telah mempraktekkan solidaritas bersama yang tidak mengenal tuan dan hamba, bahkan milik pribadi menjadi milik bersama (Kisah Para Rasul 2:44-45). Jauh sebelumnya, Platon (abad ke-5 Sm) merumuskan bahwa seorang pemimpin tidak boleh memiliki milik pribadi, dia harus memiliki segalanya bersama. Johanes paulus II menjelaskan solidaritas sebagai tekad kuat dan terus menerus untuk melibatkan diri dalam kebaikan bersama (bonum commune).
Awal abad 1 Masehi, Yesus mempraktekkan solidaritas yang tidak biasa. Solidaritas itu berpuncak dalam kisah sengsara, kisah ketelanjangan Yesus di salib. Ketelanjangan Yesus secara simbolik, memperlihatkan ketelanjangan manusia di Taman Eden. Ketelanjangan manusia di Eden di narasikan kembali oleh Yesus dalam kisah sengsara. Ketelanjangan yang mengundang tangisan putri-putri Yerusalem, simbol ketidakberdayaan dihadapan Allah, seperti kata Yesus “Hai putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Lukas 23:28).
Tangisilah dirimu dan anak-anakmu! Kita seharusnya yang malu dengan ketelanjangan diri kita. Kita seharusnya yang menangisi diri, karena peristiwa kejatuhan dalam dosa di taman eden, membuat manusia pertama menjadi telanjang. Ketelanjangan tidak hanya mengungkapkan tentang tidak adanya pakaian, bukan juga tentang keterbukaan seluruh aurat. Tetapi ketelanjangan mengungkapkan tentang ketidakberdayaan kita menutupi aurat kita sendiri tanpa solidaritas Ilahi. Ketelanjangan di taman eden di ekspresikan kembali dalam ketelanjangan Yesus di salib. Ketelanjangan tersebut, telah menunjukkan solidaritas ilahi atas hidup kita yang telanjang. Solidaritas ketelanjangan Yesus dilakonkan oleh para prajurit, dengan membagi bagi pakaian-Nya dengan cara undi.
Yesus telanjang, dan kita telah membagi-bagi pakaiannya, untuk menutupi tubuh hina penuh dosa. Prof. Armada Riyanto menyebut, “ketelanjangan tubuh Tuhan adalah pemberian diri dan cinta-Nya secara tuntas kepada karya penebusan umat manusia. Kemurnian cinta Kristus kepada manusia telah ditampilkan dalam “tiada tersisa-nya” apapun yang melekat pada tubuh-Nya.” Ini adalah puncak dari solidaritas Ilahi kepada manusia. Yesus membiarkan dirinya ditelanjangi, dan pakaiannya dibagi-bagikan kepada kita dengan cara undi. Tetapi ketelanjangan Yesus di salib, bisa memaksa kepala pasukan menyatakan pengakuannya, “sungguh, orang ini adalah orang benar!” (Lukas 23:47).           
Ketelanjangan Yesus itu adalah solidaritas personalistik, bukan solidaritas organis dan mekanistik (bdk.Max Scheler, tiga jenis solidaritas). Solidaritas personalistik karena didasarkan pada penghargaan tertinggi pada pribadi/persona manusia sebagai nilai tertinggi. Solidaritas Yesus bukan hanya pada keluarga atau kerabat (solidaritas organis), dan bukan juga pada kelompok tertentu (solidaritas mekanistik). Solidaritas Yesus pada nilai kemanusiaan, justru terlihat secara sempurnah dalam ketelanjangannya. Mengapa? Ketelanjangan itu mengubah hidup manusia, dari manusia yang telanjang menjadi manusia yang telah memakai pakaian. Dari manusia yang rusak secara kodrati, (pandangan Luther) menjadi manusia yang telah dipulihkan, karena auratnya telah ditutup oleh Yesus dengan pakaiannya sendiri.
Covid 19 dan Solidaritas Yesus      
            Solidaritas Yesus dengan demikian sesunggunya menjadi pesan bagi kita, betapa pentingnya membangun solidaritas bersama (solidaritas global, kata Harari). Solidaritas personalistik, menjadi keniscayaan, dalam menanggulangi covid 19. Harari dalam sebuah artikel, the world after coronavirus, menyebut bahwa solidaritas global adalah hal penting untuk bersama membasmi covid 19. Palestina dan Israel bisa bersama melawan covid 19, Cina terlibat membantu beberapa negara seperti Italia, Indonesia, bahkan Amerika yang selama ini berada dalam perang dagang. Bagaimana dengan kita? Solidaritas itu bukanlah hal sulit, karena kita mempunyai ideologi Pancasila, yang jika diperas jadi satu kata Soekarno adalah, “gotong royong”.   
            Negara hari ini membutuhkan solidaritas bersama dalam melawan covid 19. Kita mestinya bergotongroyong, bukan membiarkan pemerintah bekerja sendiri. Ini adalah pandemi, yang mungkin tidak satu pulau pun di Indonesia bisa menghindarinya. Gotong royong itu tidak berat, jika kita mempunyai solidaritas yang sama terhadap kemanusiaan. Soekarno menyebut, saya seorang nasionalis, tetapi nasionalisme saya adalah kemanusiaan (nasionalism is humanity). Tinggalkan perbedaan, egosentrisme mesti dijauhkan. Solidaritas personalistik lebih memudahkan bangsa ini bergotongroyong melawan covid 19. Ingat, kita adalah anak-anak merah putih yang berada dalam rumah yang sama.  
Ikuti protokol pemerintah, stay at home, social distancing. Hargai hidup yang lain dengan tidak menumpuk kebutuhan dapur. Karena menghargai hidup yang lain, sama dengan menghargai hidup kita sendiri. Tanggungjawab terhadap orang lain adalah prinsip moral dasar, kata Levinas. Itu bukan pilihan, tetapi sebuah keniscayaan untuk dikerjakan bersama. Mari bangun solidaritas bersama/solidaritas global. Karena covid 19 bisa menyerang mereka yang beragama pun yang tidak. Menyerang mereka yang menyebut dirinya paling beriman, pun yang tidak punya iman. Dunia butuh solidaritas personalistik, solidaritas ilahi yang tentu dimiliki oleh setiap mereka yang beragama.      
             
                Ivan Sampe Buntu, M.Hum
Pendeta Gereja Toraja
Dosen Filsafat di IAKN Toraja

Catatan; Diterbitkan oleh florepos 10 April 2020 dalam rangka memperinganti jumat agung, dengan mengubah judul “Tuhan dan solidaritas yang tidak biasa”

Dari Eden Menuju Getsemani


 Di manakah engkau? Pertanyaan ini mengawali pencarian Allah atas diri manusia yang telah menyadari dirinya dalam ketelanjangan (Kej 3:9-10). Di taman Eden kita menemukan kisah penderitaan manusia, atas pilihannya sendiri, di taman Getsemani, kita menemukan kisah penderitaan Anak manusia atas keinginan Bapanya. Kisah Eden dan Getsemani adalah kisah yang tidak terpisah satu dengan yang lainnya. Eden mengungkapkan ketelanjangan manusia, Getsemani mengungkapkan anak manusia yang ditelanjangi. Eden mengungkapkan tentang kejatuhan manusia dalam dosa, Getsemani mengungkapkan penebusan manusia dari dosa. Eden mengungkapkan kerja dengan peluh, Getsemani mengungkapkan peluh seperti tetes darah. Kisah eden subjeknya adalah manusia dan kisah Getsemani subjeknya adalah Allah.  
            Kisah ini bukan sekadar mengisahkan tentang dua taman, tetapi mengisahkan tentang belas kasihan Allah terhadap umatnya. Kisah Taman Eden adalah kisah pemberontakan manusia terhadap Allah, sedangkan kisah Getsemani adalah kisa pemulihan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Kita tidak sedang berkisah tentang kisah cinta Romeo dan Juliet di taman Eden, tetapi kita sedang berkisah tentang hasrat manusia yang tidak terkendali di Eden. Hasrat yang membuat manusia tidak dapat mengendalikan dirinya. Hasrat yang tidak terkendali inilah yang membuat manusia jatuh dalam dosa. Agustinus menyebut, bahwa sejak saat itu manusia telah memikul dosa warisan.
Kisah itu menyedihkan, karena kebebasan manusia dirampas oleh dosa. Dosa menguasai kita, sehingga kita telah menjadi budaknya. Tidak ada yang tersisa pada diri kita, seluruh kodrat kita rusak, kata Martin Luther. Kerusakan ini membutuhkan pemulihan dari yang suci. Yang Suci itu tidak ada diantara kita, tapi ada bersama dengan kita. Dia yang hari ini dibawa ke pembantaian seperti seekor binatang yang akan dibantai. “Dia dianiaya,  tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya  seperti anak domba  yang dibawa ke pembantaian seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yesaya 53:7). Dia yang suci mengantikan kita disalib.
Kisah kesengsaraan itu bermula di eden, dan berakhir di salib. Kisah itu sesunggunya belum berakhir, karena kita akan melihat kisah sengsara Yesus menyeberang memasuki gerbang kehidupan dan kematian. Yesus akan segera masuk dalam gerbang yang absurd, dan Kita akan segera memasuki kesunyian, “Yesus mati”. Tetapi dalam kesunyian itulah, dia sedang menyeberangi gerbang waktu, gerbang kematian, gerbang absurd. Tetapi di sanalah Yesus menyatakan dirinya sebagai Allah yang hidup. Jean Luc Marion menyatakan “Allah itu mahakuasa justru ketika Dia tidak ada, ketika Dia kalah, ketika Dia mati.

            Di manakah engkau? Pertanyaan ini mengawali pencarian Allah atas diri manusia yang telah menyadari dirinya dalam ketelanjangan (Kej 3:9-10). Di taman Eden kita menemukan kisah penderitaan manusia, atas pilihannya sendiri, di taman Getsemani, kita menemukan kisah penderitaan Anak manusia atas keinginan Bapanya. Kisah Eden dan Getsemani adalah kisah yang tidak terpisah satu dengan yang lainnya. Eden mengungkapkan ketelanjangan manusia, Getsemani mengungkapkan anak manusia yang ditelanjangi. Eden mengungkapkan tentang kejatuhan manusia dalam dosa, Getsemani mengungkapkan penebusan manusia dari dosa. Eden mengungkapkan kerja dengan peluh, Getsemani mengungkapkan peluh seperti tetes darah. Kisah eden subjeknya adalah manusia dan kisah Getsemani subjeknya adalah Allah.  
            Kisah ini bukan sekadar mengisahkan tentang dua taman, tetapi mengisahkan tentang belas kasihan Allah terhadap umatnya. Kisah Taman Eden adalah kisah pemberontakan manusia terhadap Allah, sedangkan kisah Getsemani adalah kisa pemulihan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Kita tidak sedang berkisah tentang kisah cinta Romeo dan Juliet di taman Eden, tetapi kita sedang berkisah tentang hasrat manusia yang tidak terkendali di Eden. Hasrat yang membuat manusia tidak dapat mengendalikan dirinya. Hasrat yang tidak terkendali inilah yang membuat manusia jatuh dalam dosa. Agustinus menyebut, bahwa sejak saat itu manusia telah memikul dosa warisan.
Kisah itu menyedihkan, karena kebebasan manusia dirampas oleh dosa. Dosa menguasai kita, sehingga kita telah menjadi budaknya. Tidak ada yang tersisa pada diri kita, seluruh kodrat kita rusak, kata Martin Luther. Kerusakan ini membutuhkan pemulihan dari yang suci. Yang Suci itu tidak ada diantara kita, tapi ada bersama dengan kita. Dia yang hari ini dibawa ke pembantaian seperti seekor binatang yang akan dibantai. “Dia dianiaya,  tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya  seperti anak domba  yang dibawa ke pembantaian seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yesaya 53:7). Dia yang suci mengantikan kita disalib.
Kisah kesengsaraan itu bermula di eden, dan berakhir di salib. Kisah itu sesunggunya belum berakhir, karena kita akan melihat kisah sengsara Yesus menyeberang memasuki gerbang kehidupan dan kematian. Yesus akan segera masuk dalam gerbang yang absurd, dan Kita akan segera memasuki kesunyian, “Yesus mati”. Tetapi dalam kesunyian itulah, dia sedang menyeberangi gerbang waktu, gerbang kematian, gerbang absurd. Tetapi di sanalah Yesus menyatakan dirinya sebagai Allah yang hidup. Jean Luc Marion menyatakan “Allah itu mahakuasa justru ketika Dia tidak ada, ketika Dia kalah, ketika Dia mati.
Kisah Eden telah berakhir dengan kisah via dolorosa oleh Yesus di Getsemani. Kisah Eden telah berakhir dengan kisah belas kasihan Allah atas umatnya (sola gracia). Kisah ini tentang kita yang telanjang di Eden dan menelanjangi yang suci di Getsemani. Dari Eden ke Getsemani adalah kisah sejarah umat manusia dalam ketidakberdayaannya. Jika hari ini ditengah pandemi virus corona, pertanyaan yang sama ditanyakan oleh Allah kepada kita, seperti pertanyaan kepada manusia di Eden, di manaka engkau? Apa jawab kita? Jawaban kita tentu akan berbeda! Karena refleksi kita terhadap salib adalah refleksi yang selalu hidup dan unik dalam diri setiap insan. Selamat berefleksi

Karl Marx dan keterasingan manusia

Pengantar
Tulisan ini tidak mungkin merangkum keseluruhan pemikiran Marx. Tulisan ini dibatasi dalam, bagaimana Marx memandang keterasingan manusia. Dengan memahami penyebab dari keterasingan manusia, maka setidaknya kita dapat memahami, bagaimana Marx melihat keterasingan manusia dalam konsep pertentangan kelas.
Memahami konsep berpikir Marx tidak mungkin dilakukan hanya dengan membaca pandangan Filosofisnya semata. Memahami konsep berpikir Marx tidak bisa dilepasakan dari konsep pemikir yang mempengaruhinya. Dengan demikian memahami konsep berpikirnya hanya dapat dilakukan dengan sedikit melihat akan pengaruh dari Feuerbach tentang teori agama sebagai proyeksi manusia dan konsep pemikiran Hegel tentang Roh semesta. Kedua pemikir ini tentu tidak dapat dilepaskan dari apa yang di kritik oleh Marx. Tetapi konsep pemikiran kedua tokoh tersebut tidak akan dijelaskan dalam tulisan ini.
Untuk lebih memahami tulisan ini secara sistematis, maka pertama, akan diuraikan tentang riwayat hidup Karl Marx-siapakah Karl Marx. Kedua, Agama sebagai tempat pengasingan manusia. Ketiga, keterasingan manusia dari pekerjaannya. Keempat, negara dan legitimasi keterasingan manusia. Kelima, keterasingan manusia dan kelas sosial. Keenam, basis dan bangunan atas. Ketujuh, kesimpulan dan refleksi.
Siapakah Karl Marx?
Karl Marx adalah seorang keturunan Yahudi dari keluarga rabi, yang lahir pada tahun 1818 di kota Trier di perbatasan Jerman Barat yang waktu itu masuk wilayah Prussia. Ayahnya adalah seorang pengacara Yahudi. Meskipun ayahnya dari keluarga rabi, tetapi kemudian ia berpindah agama ke protestan. Kepindahan ayahnya ke agama protestan, dilakukan karena pertimbangan praktis untuk menjadi seorang pegawai negeri, tepatnya notaris di Prussia yang memang berhaluan protestan. Ini terlihat, dengan tidak ikut sertanya ibu Karl Marx pindah ke agama protestan, pun pada akhirnya, tepatnya delapan tahun kemudian ibunya menyusul pindah ke agama protestan.
Bisa jadi bahwa kepindahan ayahnya ke protestan dengan begitu mudahnya adalah salah satu alasan Marx tidak meminati agama. Setelah tamat di Gymnasium di Trier, ayahnya menyuruh Marx untuk studi hukum. Tentu dengan alasan agar Marx mengikuti jejak ayahnya sebagai notaris. Dengan berat hati Marx mengikuti keinginan ayahnya yang sebenarnya bertentangan dengan keinginannya untuk menjadi penyair. Satu semester di Bonn, ia hanya menghabiskan uang kiriman ayahnya, dan pada akhirnya tanpa seizin ayahnya ia berpindah ke kota Berlin dan mulai belajar filsafat.
Ketika Marx sampai di Berlin, filsafat pada waktu itu sangat dipengaruhi oleh pandangan filsosofis Hegel yang baru meninggal beberapa tahun. Filsafat Hegel menjadi terkenal di Berlin yang menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Dengan menempatkan rasionalitas dan kebebasan, maka filsafat Hegel sangat cocok untuk mengkritik kekolotan negara Prussia. Karena itu Marx yang tergabung dalam klub para Doktor disebut sebagai kelompok Hegelian muda. Hegelian muda "kiri" menjadi lawan bagi Hegelian kanan yang justru menganggap Hegel sebagai teolog protestan dan pendukung negara Prussia.
Tahun 1841 Marx kemudian dipromosikan menjadi doktor filsafat oleh universitas Jena, dengan sebuah disertasi tentang filsafat Demokritos dan Epikuros. Namun rencana karir akademisnya macet oleh situasi politik. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan. Sebagai pengagum Hegel, dia melihat sebuah kontradiksi dalam masyarakat. Marx melihat kontradiksi yang sangat tajam, antara masyarakat rasional dan bebas seperti yang dipikirkan Hegel. Jawaban Marx dan kawan-kawannya adalah Hegel hanya merusmuskan pikiran, tetapi pikiran itu tidak menjadi kenyataan. Dengan demikian pekerjaan Marx adalah bagaimana menjadikan teori menjadi kenyataan. Pemikiran mesti menjadi unsur perubahan sosial, tetapi hal ini pun tidak kongkret dalam realitas, dan hal ini di praksiskan oleh Lenin.
1843 Marx menikah dengan Jenny von Westphalen putri seorang bangsawan. Dalam tahun ini dia menulis "Critique of Hegel's Philosophy of Right" serta tiga tulisan lainnya yakni Critique of Hegel's Philosophy of Right. Introduction dan On the Jewish Question. Tulisan ini mengalami perkembangan baru, di mana Marx telah membaca tulisan Feuerbach yang sangat mempengaruhinya. Kalau Feuerbach melihat filsafat Hegel sebagai sebuah keterasingan manusia dari dirinya sendiri dan ini terungkap dalam agama. Konsep ini diterima oleh Marx, tetapi kemudian Marx tidak melihat keterasingan dari agama sebagai yang primer, karena menurut dia keterasingan yang sesungguhnya adalah dari kehidupan sosialnya.
hidup Marx selalu mengalami kesulitan ekonomi, bahkan sering kekurangan makanan, sehingga anaknya pun meninggal karena kurang makan. Hidupnya ditopang oleh kiriman dari temannya Engels yang memiliki pabrik tekstil di Manchester. Marx punya kecenderungan otoriter, sehingga mereka yang tidak tunduk pada apa yang dia sampaikan akan diserang Marx dengan penghinaan termasuk menjelekkan nama pribadi. Mungkin ketidak mampuan membangun persahabatan inilah yang membuat kematiannya menjadi sepi, tahun 1883 penguburannya hanya dihadiri oleh delapan orang.  
Agama Tempat Pengasingan Manusia
"Agama adalah candu rakyat", ungkapan yang sangat terkenal yang pernah dilontarkan oleh Marx. Kalimat yang sering diartikan "seakan-akan Marx menuduh agama menyesatkan dan menipu rakyat". Di mana pernyataan ini sebenarnya ingin memberi respons terhadap apa yang dikatakan oleh Feuerbach tentang agama sebagai proyeksi manusia. Marx setuju dengan Feuerbach, tetapi menurut Marx, Feuerbach tidak tuntas dalam membicarakan itu. Feuerbach tidak bertanya, mengapa manusia melarikan diri kepada dunia khayalan (agama) dan bukan pada dunia nyata? Atau mengapa manusia memilih agama sebagai tempat pengasingan dirinya dari dunia yang nyata? Feuerbach tidak menjawab pertanyaan ini tetapi juga tidak dapat dikatakan Feuerbach buta terhadap pertanyaan ini. Ia sendiri menulis, seperti yang dikutib Magnis Suseno "penderitaan manusia adalah tempat kelahiran Allah". Meskipun demikian feuerbach tidak meneruskan logika dari gagasan tersebut.
Marx sendiri menjawab pertanyaan ini dengan kembali melihat pada kondisi kongkret masyarakat yang hidup pada zamannya. Jawaban itu mesti dicari dalam masyarakat. Apakah manusia telah menemukan eksistensinya dalam masyarakat atau tidak? Apakah struktur masyarakat telah memberi ruang kepada manusia untuk merealisasikan dirinya? Marx melihat, bahwa permasalahannya justru berada dalam masyarakat dan tidak terletak pada agama. "agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya". Realitas kongkret, yang mengasingkan manusia, telah memaksa manusia melarikan diri, dan mencari tempat pengasingan lain. Pengasingan ini ditemukan oleh manusia dalam agama yang mengharapkan keselamatan surga. Agama sebagai tempat pengasingan baru bagi manusia yang diharapkan menjawab masalah secara praksis, celakanya justru meninabobokan masyarakat dengan konsep surgawi (agama adalah candu masyarakat).
Agama secara emansipatoris pun gagal memberi jawab terhadap persoalan kemiskinan yang dihadapi oleh masyarakat. Agama hanya bisa memberi jawab secara teoritis dalam konsep surga, tetapi ini tidak membebaskan dari kemiskinan yang kongkret. Meskipun demikian mengkritik agama juga menjadi percuma, karena tidak akan menjawab apa yang telah melahirkan agama tersebut. Marx berpendapat bahwa untuk menjawab persoalan keterasingan manusia ini, maka yang mesti di kritik adalah masyarakat. "kritik surga berubah menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, kritik teologi menjadi kritik politik". Kritik agama dalam pandangan Marx hanyalah pintu masuk untuk kritik masyarakat. Agama baginya bukanlah persolan utama, tetapi yang utama adalah realitas sosial.
Dengan demikian agama bukan penyebab utama keterasingan manusia dari kesosialannya, tetapi keterasingan manusia dari kesosialannya justru ditemukan oleh Marx dalam struktur masyarakat (kelas sosial). Letak persoalan sebenarnya di temukan oleh Marx dalam strutur kelas sosial dalam masyarakat. Di mana struktur kelas sosial ini telah mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Tidak salah jika kemudian kondisi ini membuat manusia mencari jalan yang dapat memberinya kelepasan dari keterasingannya. Bertens mengatakan bahwa " karena adanya kapitalisme, manusia seakan-akan diasingkan dari kodratnya sendiri. Ia mengalami alienasi (pengasingan). Karena sistem upahan, kaum buruh harus menjual tenaganya dan produk pekerjaannya diambil daripadanya."
Keterasingan Manusia dari Pekerjaan
Pekerjaaan menjadi hal mendasar dalam hidup manusia, karena melalui dunia kerja manusia menjadi kongkret. Manusia bahkan dapat dikatakan bekerja secara bebas dan universal. Tidak seperti binatang yang hanya bekerja berdasarkan naluri demi kebutuhan hidupnya. Manusia tidak terikat hanya oleh kebutuhan pribadinya, tetapi dia bebas melakukan diluar dari kebutuhan pribadinya. Seorang bisa saja melakukan sebuah pekerjaan yang tidak bersangkutpaut dengan kebutuhannya. Manusia menjadi universal dalam bekerja, karena bisa membuat sesuatu tidak hanya dari satu bahan, tetapi dari berbagai macam bahan. Tidak seperti burung yang hanya dapat membuat sarang dari rumput kering dengan satu bentuk yang telah permanen. Dengan demikian manusia dapat menunjukkan hakikatnya sebagai manusia bebas, universal, dan estetik lewat pekerjaan. Tidak seperti binatang (burung) yang tidak mempunyai nilai kebebasan dan estetik untuk memilih sarang seperti apa yang akan dibuat.
Pekerjaan membuat manusia dapat membuktikan bahwa dia adalah, mahluk sosial. Di mana dalam pekerjaan, kita tidak hanya menghasilkan sesuatu untuk pekerjaan kita, tetapi juga untuk orang lain dan sebaliknya. Kebutuhan kita, tidak dapat dipenuhi sendiri, tetapi kita membutuhkan hasil kerja orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita menghargai pekerjaan orang lain dan sebaliknya orang lain menghargai pekerjaan kita. kita merasa terhormat oleh karena orang lain menghargai apa yang kita kerjakan. Sehingga kita benar-benar dapat merasakan kesosialan kita bersama dengan orang lain. Lebih jauh dari itu pekerjaan dapat menjadi jembatan sejarah, dalam konteks masa kini, dan masa lalu serta masa yang akan datang. Ada dimensi historis dalam pekerjaan. Apa yang kita alami sekarang ini adalah hasil kerja dari masa lalu, dan apa yang dilakukan sekarang akan memberi pengaruh di masa yang akan datang. Karena itu bagi kaum sosialis alam merupakan produk sejarah. Sejarah merupakan penciptaan manusia melalui hasi kerja yang telah dihasilkan.
Lalu apa yang membuat manusia terasing dari pekerjaannya? Ketika pekerjaan telah dilihat hanya dalam sistem kapitalis "orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata-mata terpaksa, sebagai syarat untuk bisa hidup. Jadi pekerjaan tidak mengembangkan, melainkan mengasingkan manusia, baik dari dirinya sendiri, maupun dari orang lain." sehingga keterasingan manusia dari pekerjaan mulai ketika sistem kapitalis memasuki dunia kerja. Sebelumnya manusia bebas untuk melakukan pekerjaan dengan kebebasan estetika yang mereka miliki, bukan berdasarkan kebutuhan/keinginan pasar. Manusia awalnya bekerja tidak sebagai budak kerja, karena dia menikmati pekerjaan yang dilakukannya secara bebas. Tetapi sistem kapitalis telah merampas kebebasan itu dan menjadikan manusia sebagai pekerja yang bekerja untuk kepentingan kaum kapitalis. Hasil kerjanya bukanlah miliknya tetapi milik pabrik di mana ia bekerja. Sehingga hasil kerjanya tidak lagi sebagai sebuah kebanggan tersendiri.
Manusia terasing dari dirinya sendiri, akibat dari sebuah sistem kapitalis yang telah membuat manusia bekerja agar tidak kelaparan. Bukan bekerja karena pekerjaan adalah kebutuhan dari si pekerja. Magnis Suseno menyebut tiga hal keterasingan manusia dari pekerjaannya: Pertama, hasil pekerjaan mestinya menjadi kebanggan tersendiri bagi para pekerja, tetapi naas bahwa pekerja justru tidak merasakan itu tetapi sebaliknya pekerja terasing dari produk yang dihasilkannya. Hasil kerjanya bukan miliknya tetapi menjadi milik pabrik. Semakin pekerja menghasilkan, semakin ia merasakan keterasingan pada batinnya. Kedua, tindakan bekerja tidak lagi punya makna dalam hidup pekerja, karena hasil pekerjaan telah terasing dari dirinya sendiri. Pekerjaan menjadi sesuatu yang terpaksa dilakukan karena, tidak lagi dilakukan secara bebas. Sehingga kebebasan itu ada ketika dia tidak bekerja, tetapi ketika dia bekerja, ia berada diluar dirinya sendiri. Ia tidak lagi bekerja berdasarkan apa yang di hasratinya, tetapi berdasarkan keinginan pabrik. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya semata. Ketiga, manusia telah memperalat dirinya sendiri, untuk memaksakan diri mengerjakan apa keinginan pabrik demi untuk memperoleh nafkah. Pekerjaan tidak lagi sarana pengembangan diri, tetapi justru menjadikan manusia memiskinkan dirinya. Manusia dalam hal ini pekerja, tidak ada bedanya dengan binatang, yang melakukan pekerjaannya tidak lagi universal dan estetik dalam kebebasannya tetapi berdasarkan perintah. Ia hanya bekerja untuk dapat memperpanjang umurnya, seperti binatang yang bekerja untuk memperpanjang hidupnya.
Selanjutnya, oleh pabrik kerja telah diefesiensikan dan di organisasiakan secara rasional. spesialisasi ini telah mengubah hidup manusia tergantung kepada yang lainnya. "spesialisasi ini baik, tetapi juga berbahaya, karena spesialisasi merupakan suatu jalan ke alienasi. Kalau manusia hanya memperkembangkan beberapa dari kemampuannya, ia menjadi tergantung dari orang lain". Sehingga spesialisasi secara langsung telah menunjuk pada perbedaan-perbedaan antara kaya dan miskin, antara pekerja dan tuan. Dapat dikatakan bahwa spesialisasi menjadi reduksi yang berbahaya, di mana manusia telah kehilangan otonominya dan telah terasing dari dunianya sendiri.
Negara dan Legitimasi Keterasingan Manusia
Negara untuk kepentingan siapa? Pertanyaan ini akan dengan mudah dijawab oleh Marx bahwa negara ada untuk melindungi kepentingan kelas atas, untuk mengamankan kekuasaan mereka. Negara tidak akan mungkin menjadi wasit netral yang akan memperdamaikan perselisihan kelas pekerja dan kelas atas. Negara akan selalu berpihak pada kelas atas, dan sebaliknya kelas atas akan mendukung apa yang dilakukan oleh negara. Sehingga keterasinga akan semakin nampak kelihatan dengan hadirnya negara sebagai wasit yang selalu berpihak pada kelompok kelas atas. Kegiatan-kegiatan sosial negara dicurigai oleh Marx, hanya sebagai sebuah tindakan untuk mengalihkan perhatian pekerja dari tuntutan yang lebih fundamental. Dengan kata lain tindakan sosial hanya tindakan untuk mengelabui kelas pekerja. Dengan demikian negara tidak dapat diharapakan sebagai agen perubahan bagi kelas pekerja untuk memperjuangkan hak mereka.
Negara dapat dikatakan lawan dari kelas pekerja yang memperjuangkan hak mereka. Negara hanyalah alat legitimasi pembenaran terhadap apa yang dilakukan oleh kelas atas. Sehingga perubahan hanya mungkin terjadi melalui jalan revolusi. Tidak mungkin mengharapkan perubahan sebagai hadiah pemberian dari kelas atas atau pun negara. Sekalipun negara itu disebut negara hukum, tetapi itu bukan jaminan kelepasan dari ketertindasan kaum proletariat. Kaum proletariat tidak akan mempunyai akses terhadap hukum. Sehingga hukum, hanyalah ritual kelas atas dalam rangka menciptakan "kedamaian semu". Sehingga seorang pencuri sandal jepit, akan lebih mudah untuk masuk penjara, daripada seorang koruptor yang mencuri trilliunan rupiah uang rakyat. Karena itu keadilan tidak boleh disandarkan pada negara atau pada hukum yang ada. Satu-satunya cara untuk lepas dari ketertindasan kaum proletar adalah revolusi (revolusi merupakan jalan menuju penghilangan kelas-kelas).
Keterasingan Manusia dan Kelas Sosial
Memahami keterasingan manusia, tentu tidak dapat melupakan kelas sosial yang membentuknya. Dalam panndangan Marx sendiri, sebenarnya ada tiga kelas, yakni (1). Kelas buruh (mereka hidup dari upah) (2). Kelas pemilik modal (hidup dari laba) (3). Kelas para tuan tanah (hidup dari rente tanah). Tetapi dalam analisis keterasingan sosial tuan tanah tidak dibicarakan secara spesifik, di mana pada akhirnya, tuan tanah akan masuk dalam kelas pemilik modal.
Dua kelas sosial dalam sistem kapitalis saling berhadapan, yakni kelas buruh dan kelas pemilik modal. Kelas buruh adalah kelas yang terasing oleh sistem yang dibuat oleh kelas pemilik modal. Kelas pemilik modal memiliki alat-alat kerja, pabrik, mesin dan sebagian dari mereka adalah pemilik tanah (jika mereka adalah tuan tanah). Kelas buruh sebagai kelas yang terasing, hanya menjual tenaga mereka. Sehingga tenaga mereka telah dibeli oleh para pemilik modal, jika para buruh bekerja untuk keuntungan pabrik. Tetapi jika buruh bekerja tidak menguntungkan pabrik, maka tenaga mereka tidak akan dibeli. Kelas buruh, telah menjadi kelas yang benar-benar terasing dari eksistensinya. Karena hidup mereka telah ditentukan oleh produksi, tidak di tentukan oleh diri mereka sendiri. Pekerja bisa membelih tenaga mereka, jika mereka bekerja berdasarkan keuntungan kelas pemilik modal, sebaliknya tenaga mereka akan dibuang, jika pekerjaan mereka tidak menguntungkan kelas pemilik modal.
Secara hakiki kelas atas telah menjadi kelas penindas, bagi kaum buruh. Hubungan antara kelas pemilik modal dan kelas pekerja adalah hubungan kekuasaan. Kelas atas dapat dikatakan telah menghilangkan eksistensi manusia pada diri kelas pekerja. Karena hasil kerja kaum pekerja telah dibeli dengan uang oleh pemilik modal, sehingga semua hasil kerja itu tidak lagi menjadi milik para pekerja. Pemilik modal telah membuat kelas pekerja menjadi terasing dari dirinya sendiri. Keterasingan ini telah membuat manusia akan mencari pelarian baru di mana mereka dapat menemukan eksistensinya ebagai seorang manusia. pelarian ini didapatkan pada agama, tetapi agamapun tidak mampu memberi jawab terhadap persoalan-persoalan kaum pekerja. Karena menurut Marx agama hanya bicara tentang konsep surga yang justru meninabobokkan masyarakat pekerja. Ini kemudian disebut oleh Marx "agama adalah candu rakyat".
Analisis kelas ini telah membuat pemetaan yang sangat jelas, antara mereka yang tertindas, yang diwakili olah para buruh, dan mereka yang menindas yang diwakili oleh para pemilik modal. Kelas sosial ini telah memperlihatkan kesenjangan sosial yang sangat lebar antara pemilik modal dan para kelas pekerja. Kesenjangan sosial ini juga telah memperlihatkan keterasingan manusia. Memperlihatkan siapa yang telah mengasingkan manusia dan siapa yang diasingkan dari eksistensinya.
Teori Struktur Kelas Sosial: Basis, dan Bangunan atas
Marx dalam analisisnya memahami masyarakat dalam dua struktur sosial, yakni: basis dan bangunan atas. Basis ditentukan oleh dua faktor yaitu: tenaga-tenaga produktif (produktivkrafte) dan hubungan-hubungan produksi. Tenaga produktif merupakan kekuatan yang digunakan untuk mengubah alam. Di dalamnya ada tiga unsur penting yakni (1). Alat-alat kerja (2). Manusia dan kecakapan kerjanya (3). Pengalaman-pengalaman dalam produksi (teknologi). Sedangan hubungan produksi (produktionsverhalt) adalah hubungan kelas, tepatnya struktur kelas yang jelas dan terperinci. Ciri dari basis adalah pertentangan kelas atas dan bawah. Sedangkan bangunan atas adalah: tatanan institusional dan tatanan kesadaran kolektif. Tatanan institusional merupakan institusi yang mengatur hidup bersama diluar bidang produksi. Misalnya sistem pendidikan, kesehatan, lalulintas, hukum dan negara. Sedangkan kesadaran kolektif adalah: sistem kepercayaan, norma moral dan etika. Di dalamnya termasuk agama, filsafat, moralitas masyarakat, nilai budaya seni dll.
Dua struktur sosial ini, basis dan bangunan atas menjadi kerangka pikir Marx untuk memudahkan kita memahami konsep berpikirnya. Lewat kerangka berpikir ini Marx memahami, bahwa perubahan sosial hanya dapat ditentukan oleh basis seperti yang disampaikan oleh Lili Tjahjadi "maka apabila "basis" berubah, maka "bangunan atas", di mana agama berada, pun akan berubah. Bukan sebaliknya: "bangunan atas" (agama) mengubah "basis" (hubungan-hubungan produksi)." Dapat dikatakan bahwa bangunan atas hanyalah efek perubahan ketika basis berubah. Perubahan sosial mesti dimulai dari basis bukan dari bangunan atas. Basis adalah tempat terjadinya pertentangan sosial, di mana jika pertentangan sosial ini mencapai puncaknya, maka akan terjadi revolusi sosial. Konsep ini juga tentu menjadi masalah, jika perubahan sosial hanya dilihat sebagai sebuah pertengan kelas. Di mana agama, moral dan etika serta nilai-nilai lainnya tidak lagi mempunyai peran dalam perubahan sosial.
Pertanyaan Marx memang telah terjawab dalam analisis kelas sosial, ketika dia menanyakan penyebab manusia melarikan diri pada dunia khayalan (agama). Jawaban itu sangat jelas dipahaminya, bahwa penyebab itu adalah karena manusia tidak lagi menemukan eksistensinya pada dunia real. Manusia hanya menjadi budak dan tidak lagi merdeka sebagai kelompok pekerja. Keterasingan ini telah ditemukan pada hal yang kongkret bukan pada khayalan/agama. Karena itu perubahan sosial akan berdampak pada bangunan atas, tanpa perubahan pada basis, maka tidak mungkin ada perubahan sosial secara kongkret. Titik perubahan, agar manusia tidak lagi terasing dari eksistensinya pada kelas sosial. Meskipun oleh Marx, analisisnya tidak sampai pada tindakan real seperti yang dibuat oleh Lenin.
Kesimpulan dan Refleksi
Memahami keterasingan manusia dalam konsep Marx, maka kita mesti memahami teori yang digunakan. Kita dapat terjebak melihat hal yang ada dipermukaan, jika kita tidak sungguh-sungguh memahami konsep marx tentang penyebab keterasingan manusia. Misalnya ketika Marx bicara tentang "agama adalah candu rakyat", kita bisa terjebak dan mengatakan persoalan keterasingan manusia ada pada agama. Tetapi analisis Marx melihat sesuatu yang lain, di mana justru persoalan yang sebenarnya ada pada "basis", ada pada hubungan kelas sosial. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa, ketika manusia lari kepada agama, agama tidak menjawab persoalan kongkret dari kelas pekerja, tetapi seolah-olah justru memberi legitimasi terhadap apa yang dibuat oleh kelas pemilik modal. Kririk Marx terhadap agama adalah kritik sosial, dan bukan pada persoalan esensi yang ada pada agama itu sendiri. Hidup agama mesti terkait dengan persoalan sosial, sehingga agama mampu menjawab persoalan kongkret pada manusia dan bukan hanya menawarkan konsep surgawi.
Tetapi Marx tetap meyakini, bahwa persoalan perubahan hanya dapat dilakukan dengan melihat persoalan yang sebenarnya, dan persoalan itu jelas ada pada basis. Sehingga perubahan hanya bisa terjadi jika itu dimulai dari basis. Bangunan atas, dipandang tidak mempunyai tempat dalam konsep perubahan Marx. Karena bangunan atas hanyalah efek dari perubahan yang sedang terjadi. Konsep ini perlu dipertanyakan ulang kepada Marx. Apakah bangunan atas tidak punya tempat dalam perubahan sosial (khususnya agama)? Karena agama, dalam sejarah hidup manusia, telah menjadi agen of change. Ketika bangsa Israel keluar dari penindasan di Mesir, ketika Yesus selalu berpihak pada orang-orang tertindas, atau ketika teologi pembebasan memaklumkan perjuangan sebagai "the prefential option for the poor". Sehingga perubahan sosial dengan melakukan revolusi yang akan menghilangkan masyarakat tanpa kelas, tidak hanya bisa terjadi pada basis, tetapi bisa juga dilakukan melalui bangunan atas.
Melepaskan manusia dari keterasingannya, dan menjadikannya manusia bebas, tidak sepenuhnya dapat dijawab melalui jalan revolusi. Karena jalan revolusi sering justru hanya mengganti kelas baru, tetapi tidak menjawab persoalan kongkret yang sebenarnya. Karena itu perjuangan Marx melalui jalan revolusi tidak seluruhnya benar. Keterasingan manusia tidak hanya bisa dijawab oleh revolusi sosial, tetapi mesti melibatkan kesadaran kolektif agar manusia melalukan perubahan dengan nilai-nilai tertentu. Tidak hanya memperjuangkan ketertindasan mereka dari kelas atas, tetapi benar-benar memahami kelepasan dari penindasan dalam konsep nilai yang benar, sehingga tidak lagi memunculkan kelas baru yang menindas.


Catatan, Artikel ini sudah pernah saya publish di akun lama saya di kompasiana pada 1 Oktober 2013.  Saya publish kembali di blog ini.




Daftar Pustaka :
1.Bertens, Kees. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1976
2.Hamersma, Harry. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia pustaka utama, 1986
3.Suseno, Franz Magnis. Pemikiran Karl Marx, dari sosialisme utopis ke perselisihan revisionisme. Jakarta: Gramedia pustaka utama, 2010
4.Suseno, Franz Magnis. menalar tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2010
5.Tjahjadi, Lili. Karl Marx dan Masalah Opium, Makalah S2 STF Driyarkara (disampaikan dalam kuliah matrikulasi)2013.



Franz Magnis Suseno, menalar tuhan, Kanisius, Yogyakarta 2010: hlm 72
Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx,dari sosialisme utopis ke perselisihan revisionisme,Gramedia pustaka utama, Jakarta: Hlm 72
Ibid Hlm 73
Ibid Hlm 74
Kees Bertens , Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta, Kanisius 1976 Hlm 79
Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx,dari sosialisme utopis ke perselisihan revisionisme,Gramedia pustaka utama, Jakarta:Hlm 95
Harry Hamersma, Tokoh-tokoh filsafat barat modern, Gramedia,Jakarta 1986: Hlm 71
Lili Tjahjadi, Makalah S2 STF Driyarkara, disampaikan dalam kulia matrikulasi 2013:Hlm 6

Wednesday, 1 July 2020

Melampaui Yang Estetis dan Etis: Tafsir Soren Kierkegaard Terhadap Kisah Abraham Mengorbankan Ishak


Kisah Abraham mempersembahkan Ishak adalah kisah yang sangat menarik. Kisah ini memperhadapkan pembaca pada persoalan etika universal versus partikular.  Etika adalah sesuatu yang universal, dan universal itu berlaku u semua orang. Seorang manusia bahkan dimungkinkan menunda atau mengesampingkan suatu nilai etika yang bersifat pribadi demi keutamaan etika yang bersifat universal. Tetapi dalam peristiwa Abraham mempersembahkan Ishak, justru melakukan hal yang sebaliknya. Abraham memilih melakukan penundaan teleologis atas yang etis, atau memilih untuk mengesampingkan nilai etika yang bersifat universal dan masuk dalam penghayatan iman yang lebih individual (ciri filsafat eksistensialis).
“Iman dalam pandangan kierkegaard, menyangkut penghayatan individu seorang manusia (bukan massa) berhadapan dengan yang tak terbatas (yang Ilahi).” Bagi kierkegaard dengan semakin irasionalnya iman kepada Allah, maka iman religius semakin personal dan autentik, karena hal itu tak memiliki dukungan alasan–alasan objektif. Pada titik ini kebenaran akan dipahami secara subjektif. Kisah Abraham adalah kisah yang tidak dapat dipahami secara etis, tetapi melampaui yang etis. Godaan abraham untuk mencegah dia melakukan kehendak Tuhan bukan datang dari orang lain, tetapi godaan etis. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menghabisi anak satu satunya yang sangat dicintai.
Otentisitas Abraham justru terlihat dari kemampuan dia melompati yang etis, dan masuk dalam wilayah religius. Pertimbangan baik dan buruk dalam wilayah etis, nampaknya tidak lagi memadai bagi Abraham. Pertimbangan rasional, juga  tidak lagi dijadikan satu satunya ukuran (kritik terhadap rasionalism). Tetapi yang menjadi fondasi utama kepastian dan kebenaran adalah relasi dengan yang Ilahi. Pertimbangan relasi dengan Allah adalah fondasi utama dalam mengambil keputusan pengorbanan Ishak. Pada wilayah religius orang tidak lagi bicara tentang perbuatan baik untuk dapat masuk surga. Wilayah religius tidak lagi dikaitkan dengan soal etis, tetapi kekristenan menyebutnya hanya semata mata karena anugerah.  
Pada wilayah religius inilah Abraham melompat, sehingga perintah Allah untuk mengorbankan Ishak bukan lagi dalam wilayah estetis (wilayah estetis sebagai wilayah kenikmatan/kesusahan) dan etis (wilayah baik dan buruk). Abraham telah memutuskan tindakannya berdasarkan subjektivitasnya, tetapi tidak berarti dia menentukan kebenarannya sendiri. Abraham melakukan atas dasar hubungan yang sangat personal dengan Tuhan. Tindakan Abraham adalah tindakan yang menunjukkan otentisitasnya sebagai manusia, yang dapat melihat kebenaran tanpa terikat pada wilayah estetis dan etis (wilayah estetis, etis dan religius akan saya bahas kemudian). Yang penting bagi Kierkegaard adalah sikap seseorang terhadap apa yang diyakininya sebagai kebenaran, dan bukan apakah kebenaran yang diyakininya itu sungguh-sungguh benar.
Kisah Abraham telah memperlihatkan subjektivitasnya untuk meyakini apa yang dia percayai. Tidak heran jika kemudian Kierkegaard menjuluki Abraham sebagai Bapa orang beriman. Kierkegaard menyebut bahwa tokoh iman seperti Abraham selalu ada di segala zaman, akan tetapi mereka tersembunyi, tidak ada ciri lahiriah yg bisa menjadi penanda. Mereka tidak seperti kaum farisi yang selalu memperlihatkan kesalehan, kebaikan sebagai ekspresi keber-imanan mereka.

Thursday, 4 May 2017

Memahami Pertanyaan Filosofis

Apakah semua pertanyaan bisa dikategorikan sebagai pertanyaan filosofis? 
Anak saya yang kelas satu SD sering bertanya tentang banyak hal, tetapi tidak semua pertanyaannya dapat dikategorikan sebagai pertanyaan filosofis. Secara sederhana filosof Isaiah Berlin bisa membantu kita untuk mengurai kategori pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketika anak saya bertanya, di mana sepatu saya, saya sering tidak dapat menjawab pertanyaannya, tetapi saya bisa memastikan di mana mencarinya, saya bisa mencarinya di rak sepatu atau di tempat penyimpanan sepatu. Demikian pun ketika seseorang bertanya mengapa Ahok kalah pada pilkada DKI? Kita akan segera mengetahui ke mana mencari jawabannya. Kita bisa mencari jawabannya dengan membandingkan strategi yang dipakai oleh kedua pasangan. Atau mungkin kita bisa menanyakannya kepada para ahli. Pertanyaan-pertanyaan ini akan disebut oleh Isaiah Berlin sebagai pertanyaan empirik faktual.
Pertanyaan lain yang sering kali ditanyakan oleh anak saya yang tidak mungkin dicari jawabnya dengan pengamatan empirik faktual adalah. Berapa nilai dari 1+1? Dengan melihat rumus aljabar sederhana, maka kita pasti menemukan jawabannya. Pertanyaan ini disebut sebagai logis formal
Pertanyaan yang lebih rumit adalah ketika kita mulai bertanya, apa manusia? apa itu kebenaran? apa itu keadilan? Semua pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan metode empirik faktual dan logis formal. Pertanyaan seperti ini meminta jawaban mendasar, dan inilah yang kemudian kita sebut sebagai pertanyaan-pertanyaan filosofis. Pertanyaan yang akan memberi pengetahuan fundamental.

Teodise (Pembenaran Tuhan): Dialog dengan Leibniz di Masa Pandemi Covid-1

Pertanyaan tentang realitas kejahatan di dunia bukanlah pertanyaan yang baru muncul di dunia post modern. Pertanyaan ini pertama kali ditany...