Saturday, 19 September 2015

Paideia Platon: Menggali Konsep Pendidikan Platon



Menggali Konsep Filsafat Pendidikan Platon Dalam Buku:
Mendidik Pemimpin dan Negarawan
Dialektika Filsafat Pendidikan Platon dari Yunani Antik Hingga Indonesia
Penerbit : Lamalera (Yogyakarta) 2014
Penulis : A. Setyo Wibowo dan Haryanto Cahyadi
Tebal Buku : xvi+392 halaman

Paideia Platon



Introduction
Mendidik Pemimpin dan Negarawan–Dialektika Filsafat Pendidikan Platon dari Yunani Antik Hingga Indonesia. Demikian judul dari buku ini, yang menguraikan secara panjang lebar bagaimana pendidikan dari zaman Yunani antik dan bagaimana Platon menguji kembali model paideia (pendidikan, pembudayaan) zamannya dan mengajukan model baru pendidikan.
Platon merumuskan kembali paideai zamannya yang dapat kita lihat dalam konsep alegori Matahari, Alegori garis terbagi dan alegori gua dengan tidak melupakan konsep merawat jiwa khas Platon. Dalam kedua alegori ini terlihat Platon membongkar model ideal (paradeigma) paideia zamannya khusunya konsep Homeros dan kaum Sofis. Platon menunjukkan kelemahan dari paideia Homeros dan sofistik tetapi sekaligus membuat rumusan baru tentang paideia. Apakah Platon membuang semua konsep paideia Homeros-Sofistik? ini menjadi salah satu pertanyaan menarik dalam buku ini.
Kritik Platon terhadap paideia Homeros-Sofistik dibangun dengan argumentasi yang kokoh. Kritik Platon ini juga menjadi relevan dalam konteks sekarang. Setyo Wibowo dalam bab III dengan begitu tajam menggunakan konsepsi Paideia Platon baik dalam melihat carut marut pendidikan, pun dalam meihat pemimpin-pemimpin bangsa yang dikendalikan oleh epithumia (hasrat akan uang).
            Konsep ideal negarawan kalokagathos dari Homerik-Sofistik sampai Platon juga dipaparkan dengan sangat menarik. Bagaimana arete seorang negarawan pada era Homerik-sofistik dan bagaimana Platon menguji kembali konsep tersebut dan menawarkan konsep baru keutamaan negarawan kalokagathos.

Kata Kunci
Paideia (pendidikan/pembudayaan, Mimesis (peniruan/peneladanan), Kaloskagatos (kebaikan/keelokan),   Alegori Ranjang Tidur, alegori matahari, alegori garis terbagi dan alegori gua.
                       
Memahami Paideia Homeros
“…Pernyataan Platon bahwa Homeros  adalah sosok pendidik bagi bangsa Yunani (hellada Pepaideuken), terlepas dari kritiknya yang demikian tajam dan pedas itu, rupanya mencerminkan penilaian historis yang objektif pada zamannya dalam menimbang sosok penyair pertama arkhais…”[1] 

Warisan Homeros dalam paideia berupa epos (kidung kepahlawanan) Iliados dan Odysseia sebagai paideia Yunani (sarana pedagogis paling handal dalam mengekspresikan kebudayaan). Sama seperti Ramayana dan Mahabharata bagi India atau Shu –ching (kitab sejarah) dan tao te ching (kitab jalan keutamaan) bagi China. Homeros dalam zaman pra-arkhais (era gelap) dan Arkhais menjadi penyair yang mahir menghibur masyarakat, meramal teka teki ilahi, dan diakui sebagai sosok berpengalaman dan berpengetahuan luas serta mampu memberi nasihat dalam segala macam perkara.
Homeros senantiasa melempar percikan pesan bijak dibalik narasi eposnya, terutama yang berkenan dengan keutamaan polis. Para negarawan dituntut untuk berhikmat atas kerapuhannya sebagai mahluk mortal. Paideia bagi Homeros adalah keteladanan atau meniru (mimesis) nilai yang pantas sebagai model ideal. Artinya paideia merupakan keteladanan dan peniruan sosok personal yang dapat dilihat dalam kidung kepahlawanan yang dikisahkan.
Homeros memahami keutamaan (arete) manusia sebagai mahluk yang digdaya dan unggul. Ciri manusia utama ini bersifat “estesis kalos (indah-elok) dan etis agathos (baik)”[2] dari mana muncul konsep kaloskagathos. Kaloskagathos tidak hanya menjadi milik kaum elitis aristokrat tetapi hendak bicara tentang nilai kemanusiaan ideal. Sehingga keutamaan seorang negarawan dalam konteks Arkhais masa Homeros tidak hanya soal keberanian di medan perang dan kehebatan di forum majelis, tempat para lelaki meraih kemasyuran. Homeros juga sama sekali tidak melihat keutamaan seorang negarawan kaloskagathos dalam sudut pandang eu –geneia (bibit) dan ploutos (bebet) dan bobot. 
Keutamaan dalam paideia Homeros ini memperlihatan bahwa sosok ideal negarawan kalokagathos bisa dilihat dalam kemampuannya sebagai seorang penyair “Sosok negarawan ideal diukur statusnya berdasarkan kapasitas kepenyairannya; atau sebaliknya, sosok penyair memiliki otoritas sebagai negarawan. Yang menyatukan kedua kapasitas ideal itu adalah perannya sebagai pendidik.”[3] Dalam konteks Homeros ini maka dapat dikatakan bahwa figur seorang negarawan kalokagathos itu terlihat pada diri seorang penyair, yang mampu untuk memberi solusi terhadap persoalan-persoalan polis. Kemampuan seorang penyair dalam konteks ini juga terlihat dari kemampuan mereka mendidik dengan menggunakan kidung-kidung kepahlawanan sebagai mimesis dan paradeigma. Konsep Homeros ini tentu sangat bersifat essentialis.
Setelah era Homerik, maka dua polis Yunani pada abad VI SM yakni; Sparta dan Athena menerjemahkan ulang kaloskagathos sebagai keberanian dan kedigdayaan di medan pertempuran. Keutamaan dipandang sebagai keberanian seorang prajurit yang tanpa takut mati membela polis. Sehingga sikap pengecut di medan tempur bukan sikap seorang kaloskagathos.      

Apa itu Paideia Sofistik?
            Kaum Sofis, merupakan kelompok intelektual Yunani yang melihat keutamaan (arete) kaloskagathos dalam sudut pandang yang baru terhadap konteksnya. Ketika keutamaan dipahami sebagai kedigdayaan dalam bertempur pra Homeros, maka kaum Sofis melihat keutamaan sebagai olah nalar. Dalam konteks ini seorang yang disebut berkeutamaan dilihat dari kemampuan dia untuk memberi argumentasi. Karena itulah paideia dalam metode sofistik dapat dibagi dalam tiga bagian yakni:
            Pertama, dengan melihat ilustrasi pemahat yang membentuk sebuah patung dari sebongkah batu marmer yang keras. Atau ilustrasi petani yang menanam bibit unggul di tanah yang subur.  Kedua, syair dan musik menjadi salah satu pilihan untuk menggugah seorang anak untuk berkembang dalam irama yang harmonis. Sofistik secara radikal menafsir musik dan syair sebagai sarana pembentukan karakter. Sarana pembentukan karakter juga dilihat dalam pembentukan keterampilan bernalar (the principle of shaping the inttelect), dan pengembangan keterampilan bernalar (the cultivation of the inttelct). Ini berfokus pada bahasa (grammar), dan ucapan (rhetoric) dan kejernihan pikiran menyelidiki masalah dan menarik kesimpulan (dialectic). Untuk pengembangan bernalar, kaum sofis mengembangkan ilmu berhitung (mathemata) sebagai “fondasi dasar paideia[4]. Ketiga dengan menggunakan kiat pengajaran ilustrasi yang mensejajarkan antara olah raga dengan olah nalar. Ketangkasan berpidato (oratory) dipahami serupa dengan senam otak (inttelectual gymnastic) yang sejajar dengan kelenturan seorang atlet. Kekuatan kata (logos) identik dengan figur pegulat yang unggul dalam bertarung di arena pertandingan, atau “pertarungan hukum antara dua orang dalam ruang pengadilan dengan mengandalkan kekuatan kata (logos)”[5].
            Konsep paideia kaum sofis ini menjadi konsep yang selalu bertumpu pada dua hal dasar yakni kemampuan personal seorang murid dan kemampuan pendidik dalam mendidik. Bahwa konsep paideia yang baik selalu diukur dalam polis. Ukuran ini bisa dilihat dalam kemampuan seseorang dalam memberi argumentasi (misalnya memberi pembelaan dalam ruang-ruang pengadilan). Sehingga seorang yang disebut berkeutamaan akan selalu diukur pada kemampuan rhetoric-nya. Sehingga untuk seorang negarawan kaloskagathos ukurannya adalah; apakah dia mempunyai ketangkasan dalam rhetoric atau tidak. Karena olah tubuh di dalam gimnastik, telah berubah menjadi olah nalar dalam ruang-ruang publik. Keutamaan tidak lagi bertumpu pada keberanian dimedan tempur, tetapi telah digantikan dengan kemampuan seseorang dalam memberi argumentasi. Konsep kaum sofis ini sangat perennialis.                            

Kritik dan konsepsi Paideia Platon
Kritik Homerik-Sofistik
Dalam konsep Paideia Homerik-Sofistik, maka mimesis (meniru, meneladani), dan ten rhetoriken tekhne (keterampilan berpidato), menjadi hal yang sangat penting. Tetapi Platon, mengkritik dengan menampilkan alegori ranjang tidur. Di mana dalam alegori ranjang tidur Platon mengambarkan tiga buah ranjang tidur yang mempunyai jenjang hierarki tersendiri. Tiga buah ranjang tidur ini masing-masing dibuat oleh Tukang Ilahi, tukang kayu dan pelukis/penyair. Ranjang tidur ketiga yang dibuat oleh pelukis dianggap sebagai paling rendah karena merupakan tiruan dari yang kedua, di mana ranjang tidur kedua pun merupakan tiruan dari yang pertama. Platon menyebut bahwa status penyair identik dengan pelukis yang membuat realitas ranjang tidur pada jenjang ketiga. Karena realitas jenjang ketiga hanyalah bayang-bayang dan peniruan dari ranjang tidur kedua yang dibuat oleh Tukang kayu. Pembuat Ranjang tidur ketiga yakni pelukis membuat ranjang tidur dengan cara mimesis hanya untuk kepuasan dan kesenangan. Sama halnya dengan penyair yang membuat syair hanya untuk kesenangan dan kenikmatan para pendengar tetapi belum tentu kita menemukan kebenaran.  
Dalam konteks Yunani kuno syair merupakan sarana paling unggul untuk mengespresikan ideal hidup suatu polis. Karena itulah mengisahkan syair-syair menjadi penting karena dianggap sebagai paideia bagi polis. Platon secara keras mengkritik bahwa tidak semua syair dapat dijadikan sebagai paideia. Mimesis lewat syair-syair penting bagi anak-anak, tetapi tidak semua syair bisa ditiru oleh anak. Platon juga melihat bahwa syair yang disampaikan hanya sebatas kenikmatan bagi polis, tetapi tidak membuka ruang untuk mempertanyakan kebenaran didalamnya. Semua syair yang disampaikan seolah menjadi kebenaran yang harus dijadikan pendidikan karakter bagi polis. Sama halnya dengan ranjang tidur ketiga yang dibuat oleh pelukis, demikianlah para penyair hanya memberi kenikmatan bagi jiwa epithumia dan thumos, tetapi tidak memberi tempat bagi logistikon (akal budi) untuk melihat kebenaran.  
Platon juga mengkritik keutamaan kaum sofis yang hanya dilihat dalam kemampuan rhetoric, khusunya kemampuan sebagai seorang orator. Seolah-olah, mereka yang trampil dalam berpidato selalu identik dengan nilai-nilai kebenaran, keadilan, keelokan dan kebaikan. Sokrates juga menyebut mereka ini seperti orang yang hanya gemar merawat kesehatan, dan menjaga kebugaran demi pesona penampilan. Di sana tidak ada kebenaran, tetapi hanya sebuah kepura-puraan (kolakeutkike) dan tipu muslihat (kolakeia).
Konsep Paideia Platon
Memahami konsep Paideia Platon, maka kita akan melihatnya dalam tiga konsep alegori: yakni alegori matahari, alegori garis terbagi dan alegori gua. Ketiga alegori ini dipakai oleh Platon untuk menjelaskan; pengetahuan (episteme) dan opini (doxa), yang sensibel dan inttelegibel atau logistikon (akal budi) dan Thumos (rasa bangga diri, harga diri) serta ephitumia (hasrat akan harta,seks singkatnya hasat akan  uang).
Pertama, alegori matahari, Platon menjelaskan bahwa cahaya tidak otonom pada dirinya sendiri, tetapi dia bersumber dari yang baik dari mahluk ilahi yakni matahari. Matahari tentu tidak sama dengan mata sebagai indera untuk melihat karena mata tidak memancarkan cahaya seperti matahari. Tetapi mata dapat melihat sebuah gambaran tertentu berkat bantuan cahaya matahari. Karena itulah mata inderawi tidak akan bisa melihat yang baik, karena yang baik hanya bisa dipahami dalam kawasan pengertian (logistikon) dan itu bisa dimengerti dengan bantuan idea. Dengan bantuan idea jiwa logistikon akan dapat memahami segala sesuatunya sebagai pengetahuan (episteme).
Kedua, alegori garis terbagi yang ditandai dengan garis pemisah horisontal yang tegas yang berada pada sebuah garis vertikal. Garis ini menjadi penanda antara yang sensibel dan intellegibel. Di mana jiwa yang hanya mampu menjangkau sesuatu dalam keadaan terlihat, maka jiwa tersebut akan berada dalam jenjang opini (doxa). Sedangkan jiwa yang hanya diterangi secara samar-samar hanya akan berada pada wilayah bayang-bayang (eikasia). Jiwa yang diterangi cahaya (matahari) secara terang benderang, akan dipahami berada dalam status keyakinan atau kepercayaan (pistis). Dalam jenjang pistis opini memuat kebenaran, namun status dan kualitasnya hanya sementara, karena bersifat sementara kebenaran yang dilihatnya pun tidak selalu tepat, pasti dan kekal. Jiwa juga bisa sampai pada kawasan pengertian dan dengan demikian terbuka untuk memahami pengetahuan. Kawasan pengertian ini lebih tinggi tingkatannya dari kawasan terlihat. Kawasan pengertian ini tidak tergantung pada kawasan terlihat. Dalam kawasan ini jiwa memahami sesuatu dengan prinsip dasar tentang keutamaan tertinggi, pasti, tetap, kekal dan umum. Kawasan pengertian ini terdiri dari dua garis horisontal yakni: penalaran matematik (dianoia) dan intuisi ilahi (noun/noesis).  Dalam hal ini pengetahuan tidak lagi bersifat penalaran, tetapi mewujud dalam pengertian utuh.
Ketiga, alegori Gua. Alegori gua merupakan alegori yang dapat mengambarkan epistemologi dari pandangan Platon tentang jenjang pengetahuan. Ketika para tahanan masih berada dalam gua, maka mereka hanya melihat bayang-bayang di dinding gua yang dipandang sebagai kebenaran, tetapi ketika dia mampu melepaskan diri, maka dia akan melihat realitas sekitarnya, yakni benda-benda material yang terlihat oleh pancaran api yang menyalah. Di mana api identik dengan matahari karena terangnya tetapi, api juga tetap akan padam. Tetapi ketika dia telah keluar dari gua, maka dia akan melihat realitas yang diterangi oleh cahaya matahari, seperti pohon-pobon. Perjalanan keluar gua adalah upaya jiwa mengapai kawasan pengertian. Sehingga ketika tawanan telah terbebaskan diluar gua, maka pertama-tama ia akan melihat bayang-bayang, kemudian keserupaan benda-benda di dalam permukaan air, selanjutnya benda itu sendiri. Setelahnya dia akan melihat cahaya dan cahaya yang muncul dari matahari. Matahari adalah gambaran idea, atau yang baik, yang memberi terang.
Dari tiga konsep alegori di atas, Platon telah mengambarkan dengan sangat baik, bagaimana konsep Paidea yang hanya dapat dilihat dalam konsep jiwa yang diterangi oleh logistikon,  tetapi tidak berhenti sampai pada jiwa logistikon, karena di sana ada idea yang menjadi sumber segala yang baik yang di identikkan dengan matahari. Dapat dipahami mengapa Platon kemudian mengkritik dengan keras konsep Homeros-sofistik, karena konsep ini hanya berada pada wilayah sensibel atau wilayah bayang-bayang dan opini wilayah inderawi. Sedangkan konsep paideia Platon tidak berhenti pada konsep inderawi tetapi melampaui yang inderawi dengan masuk pada level yang lebih tinggi yakni pada wilayah jiwa logistikon yang diterangi, bahkan sampai pada tahap idea. Secara sederhana konsep paideia Platon dapat ditafsirkan sebagai tawanan yang telah terbebas dari dalam gua dan mengalami pencerahan budi, yang mampu melihat matahari sebagai (yang baik). Konsep Paton ini yang sangat menekankan rasionalitas, bisa dikategorikan dalam filsafat pendidikan sebagai perenialis.
Konsep jiwa logistikon, thumos dan ephitumia tidak dapat dilepaskan dalam konsep paideia platon. Karena jiwa merupakan sasaran paideia platon. Jiwa ephitumia dan thumos hanya mungkin dikendalikan oleh logistikon. Tetapi hasrat bernalar pada logistikon pun harus dikendalikan oleh pengetahuan (phronesis) dan kebijaksanaan (sophia) agar penalaran tidak menjadi destruktif seperti gemar bergargumentasi atau tangkas memelintir kata seperti kaum sofis. Karena itulah pendidikan sebagai perawatan jiwa, tidak cukup hanya sampai pada tahapan inderawi, atau akal budi tetapi harus sampai pada tahap yang lebih tinggi yakni idea.   
    



                                      


[1] Hlm 86
[2] Hlm 49
[3] Hlm 140
[4] Fondasi dasar bernalar sebagaimana tafsir Jaeger sebagaimana dikuti HC pada halaman 144-145, bahwa ini merupakan sumbangsi terbesar Paideia kaum sofis bagi kebudayaan Yunani Antik. Model formasi ini adalah menyeluruh  yang kemudian dikenal dengan sistem pendidikan ketermpilan  (artes liberales). Sistem pendidikan ini dibagi dalam dua bagain besar yakni studi formal mencakup tiga bidang sudi yakni tata bahasa (grammar) tata berpidato (rhetoric) dan tata berpikir (dialectic) atau dikenal sebagai trivium. Kedua adalah studi dasar, yang terdiri dari empat bidang studi yakni; aritmatika, geometri, musik, dan astronomi. Studi Ini dikenal dengan quadrivium.  
[5] Dengan adanya perdebatan hukum diruang pengadilan, maka metode lama yang digunakan dalam pembuktian hukum dengan cara penyiksaan, sumpah dan kesaksian, telah diganti dengan argumentasi yang bertumpu pada ketangkasan berkata-kata.

Monday, 14 September 2015

Aylan dan Etika Wajah Levinasian


Aylan Kurdi
Aylan Kurdi seorang bocah yang tergeletak tidak bernyawa di bibir pantai Turki, dan ditetemukan oleh seorang polisi. Perang dan konflik sektarian yang terjadi di negaranya membuat mereka lari mencari tempat yang aman. Naas, Aylan justru menjadi korban akibat perahu yang dipakai bersama orang tuanya dan saudaranya dihempaskan ombak, ketika sedang menuju Yunani mencari suaka. Tragedi ini telah menjadi peristiwa kemanusiaan yang telah mengugah nurani pemimpin Uni Eropa untuk menampung lebih banyak pencari suaka. Aylan bukanlah siapa-siapa, bukan anak seorang pejabat penting. Bukan pula seorang artis cilik yang terkenal! Tetapi mengapa kematian Aylan begitu penting? Aylan adalah sebuah gambaran tentang hancurnya kemanusiaan. Aylan adalah wajah kemanusiaan kita yang sedang menceriterakan sebuah ratapan akan matinya cinta. Aylan yang kaku tak bernyawa sedang menceriterakan kepada kita akan kerapuhan societas.
Wajah bocah kecil berusia tiga tahun ini, telah menceriterakan kepada kita betapa relasi dengan yang lain telah hancur, akibat dari kepentingan politik dan keserakahan. Jika nilai kemanusiaan tidak lagi bisa kita dapatkan dalam relasi dengan yang lain, maka kita hanya akan menyisakan syair-syair suci tanpa makna. Aylan telah berceritera kepada dunia tentang pentingnya hidup dalam damai. Boca kecil ini sedang mengugat kemanusiaan kita. Seperti sedang bertanya, ada apa dengan kemanusiaan kita? Mengapa konflik harus terjadi? Dan, mengapa bocah-bocah kecil yang harus menjadi korban? Semua pertanyaan Aylan membuat kita bisu.
Wajah Aylan yang kaku bukan sekedar sebuah fenomena belaka, di mana kita semua menjadikannya sebagai tontonan. Tetapi wajah ini telah menyingkapkan sebuah pergulatan manusia. Wajah ini seperti telah menantang, dan mengundang kita untuk bertanggung jawab. Sayangnya kita sering kali gagal memahami transendensi wajah yang lain. Gagal memahami betapa pentingnya kehadiran yang lain. Dan, ini terjadi karena kecenderungan kita memahami orang lain berdasarkan pikiran kita. Emanuel Levinas menyebut: “Visi sering menghambat relasi kita dengan yang lain. Karena kita lebih sibuk dengan apa yang akan kita katakan pada yang lain, sehingga membuat kita tidak terbuka terhadap sapaan yang lain.” Keterbukaan dan perjumpaan dengan yang lain menjadi penting dalam memahami kemanusiaan.
Kita tidak ingin ungkapan Hobbes menjadi kenyataan, bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Pun, kita tidak berharap manusia kehilangan akal sehat, dan menjadi anti sosial. Konflik yang terjadi atas nama ideologi tertentu, dengan visi tertentu, telah memporak-porandakan societas. Kita nampaknya membutuhkan yang disebut Levinas relasi asimetris. Relasi di mana kemanusiaan dilihat dalam wajah yang lain. “Humanisme dalam wajah yang lain.” Etika universal yang kita hidupi hari ini yang dibangun atas dasar equality, nampaknya tidak cukup menjawab persoalan kemanusiaan yang terjadi. Kehadiran Aylan seperti meruntuhkan etika universal yang telah kita hidupi.
Aylan telah menunjukkan kepada kita bahwa kesetaraan tidaklah cukup untuk membangun kemanusiaan. Bahkan kesetaraan seringkali menghilangkan keunikan pada diri setiap orang.  Karena itulah, Levinas menyebut struktur kemanusiaan tidak terletak dalam relasi yang setara. Di mana manusia dibawah dalam tatanan universal yang justru mereduksi keunikan pada dirinya. Manusia harus dilihat dalam ketidak terbatasan, bukan dalam sebuah doktrin kesetaraan. Jika tragedi Aylan kita lihat semata-mata hanya dalam konsep etika universal equality, maka kita bisa melupakan totalitas kemanusian dalam segala keunikannya. Mengapa? Karena equality sering menjebak kita pada sikap heterofobia (ketakutan akan yang lain). Heterofobia membuat semua orang menjadi musuh, sehingga relasi dengan yang lain menjadi hilang.
Relasi asimetris menjadi menarik, untuk melihat bagaimana kita mempunyai sebuah tanggung jawab tak terbatas pada yang lain. Apapun yang kita lakukan atas dasar tanggung jawab, rasanya tidak akan pernah cukup. Relasi asimetris akan lebih menghargai keunikan manusia. Di sana tidak ada kepalsuan, tetapi yang ada adalah ketelanjangan (apa adanya). Disana juga tidak mengenal warnah kulit, agama, suku, untuk menolong mereka yang sedang mempertahankan hidup. Relasi asimetris dalam etika Levinasian akan memberi tempat pada kemanusiaan. To, nasionalisme seorang pemimpin tidak akan berkurang, hanya karena memberi suaka bagi mereka yang sedang terlunta-lunta dilaut. Mereka yang sedang bergulat dengan ombak diatas perahu kayu yang kecil mencari tanah harapan. Gandi menyebut, “saya seorang nasionalisme, tetapi nasionalisme saya adalah kemanusiaan” (my nationalism is humanity).
Tanggung jawab kemanusiaan kita ada dalam perjumpaan dengan yang lain dan bukan dalam sebuah teori sastra-sastra suci. Pandangan Levinas hanya bisa terlihat dalam subjek yang hidup (a living subject) dan bukan hanya sekedar subjek yang sadar (a conscious subject). Kesadaran akan yang lain belum bermakna apa-apa, jika kita belum menghayatinya dalam perjumpaan dengan yang lain. Semua orang hari ini sadar bahwa apa yang terjadi pada Aylan adalah sesuatu yang mengusik nurani. Tetapi apakah kesadaran akan tragedi Aylan menjadi bermakna jika kita sendiri tidak memberi ruang dalam perjumpaan dengan yang lain. Wajah Aylan bukan sekedar gambaran kaku tentang kemanusiaan, tetapi wajah Aylan sungguh-sungguh adalah wajah kemanusiaan kita.
Wajah itu telah memperlihatkan kepada kita, betapa pentingnya tanggung jawab terhadap yang lain. Yang lain adalah sahabat bagi yang lainnya (homo homini socius). Yang lain bukanlah neraka, tetapi wajah yang lain adalah gambaran totalitas seorang manusia dalam keunikannya. Aylan mengingatkan kita, betapa tidak cukup jika kita tidak sungguh-sunggu hadir dalam perjumpaan dengan yang lain. Etika Levinasian mau menyatakan bahwa “Kehidupan adalah cinta akan kehidupan itu sendiri”.

    



Thursday, 4 June 2015

Levinas Di Kelud


Sebuah Refleksi Dari Lingkar Gunung Kelud


Tidak seperti biasanya, pagi itu saya bangun sekitar jam 03.00, hari itu adalah hari Minggu, tgl 2 Nopember 2014. Saya mulai mempersiapkan peralatan yang akan kami bawa dalam rangka penelitian di lingkar Gunung Kelud, tepatnya di daerah Satak dan Sukomoro. Sekitar jam 04.20, saya mulai melangkahkan kaki keluar rumah menuju Biara SVD untuk berangkat bersama dengan Fr.Yan ke Biara Seminari Tinggi CM Badut (Biara CM Badut). Cuaca pagi itu terasa sangat dingin, tetapi itu tidak menjadi halangan untuk terus melangkahkan kaki sampai ke biara SVD. Saya sungguh bersyukur bahwa Fr. Yan berangkat bersama saya, karena saya sendiri belum melihat Biara CM Badut, tempat kami akan berkumpul untuk berangkat bersama ke lingkar Gunung Kelud. Kami berangkat dari biara SVD setelah saya menungguh Fr.Yan beberapa menit, dan akhirnya tepat pukul 04.35. Kami berjalan ke Biara CM Badut, dan kira-kira 15 sampai 20 menit akhirnya kami sampai di Biara. Saya melihat di luar biara sudah ada Fr.Nasip yang menjadi pimpinan rombongan, telah menunggu di luar biara, karena saat itu pintu gerbang biara belum terbuka.
Setelah jam 05.00 akhirnya pintu biara terbuka, dibuka oleh seorang Frater, saya sendiri tidak mengenal Frater tersebut. Kami pun masuk di biara, dan saya melihat Fr.Feri dan Fr.Roni sedang mempersiapkan makanan yang akan kami bawah untuk bekal penelitian. Saya tidak melihat Rm. Armada yang juga tinggal di biara tersebut. Rm.Armada merupakan penggagas/perancang dari penelitian yang akan kami lakukan di lingkar Gunung Kelud. Tidak beberapa lama kami menunggu saya melihat Rm.Armada telah siap untuk berangkat, dan nampaknya mobil L300 yang akan kami pakai juga telah siap untuk membawah kami menuju lingkar Kelud. Kami berangkat dari Biara CM Badut, sekitar jam 05.10 menuju ke lingkar Gunung Kelud.
Perjalanan kami menjadi sebuah perjalanan yang menarik, karena dalam perjalanan teman-teman mulai mencairkan suasana, dengan menceritakan pengalaman-pengalaman lucu di dalam biara, ketika masih kuliah S1. Saya bersama dengan Fr. Feri dan Rohim yang duduk paling belakang hanya menyimak apa yang teman-teman ceritakan, sambil sesekali menimpali dengan pertanyaan. Saya melihat Rm. Armada seperti sedang melanjutkan tidurnya, yang duduk tepat berada di belakang sopir. Kira-kira jam 06.30, mobil berhenti di sebuah tempat untuk istirahat, sekaligus kami akan menikmati sarapan bersama yang telah dipersiapkan oleh Fr.Nasip bersama dengan teman di biara. Rohim nampak sangat gembira, ketika mobil berhenti, karena sejak tadi dia menekan-nekan perutnya karena lapar. Setelah kira-kira setengah jam kami istirahat, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Pare.   
Kami tiba di pare, tepatnya di gedung Gereja Katolik Pare. Saya lihat misa sementara berlangsung. Tidak berapa lama kami menunggu, akhirnya orang yang akan mengantar kami nampak telah siap dengan mobilnya untuk membawah kami ke lereng Kelud. Kami sampai di Gedung Gereja Stasi Satak dan setibahnya  di gereja nampak beberapa orang telah ada di sana menunggu kedatangan kami. Setelah kami turun dari mobil, kami dipersilakan masuk ke ruangan di samping gereja. Setelah saya dan rombongan menyalami satu persatu umat yang dari tadi menunggu kedatanga kami. Tidak berapa lama kami pun mulai mempersiapkan untuk wawancara sebelum misa, karena nampaknya Rm.Armada juga harus mempersiapkan diri memimpin misa.
Kami memulai wawancara dengan beberapa narasumber yang berlangsung sekitar satu jam lebih. Setelah wawancara selesai, saya juga mulai mempersiapkan diri untuk beribadah bersama dengan umat. Ketika saya masuk gereja, saya melihat sahabat saya Rohim yang non kristen juga ikut masuk dan duduk tepat di samping saya. Kami pun mengikuti kebaktian bersama dengan umat yang ada di sana. Saya melihat Rohim yang ada di samping saya juga ikut mengikuti semua liturgi, ketika umat berdiri, dia ikut berdiri, sambil sesekali bertanya pada saya. Nampak Rohim tidak ada kekakuan sama sekali dalam mengikuti semua akta. Gereja yang kami tempati, merupakan salah satu gereja yang baru direnovasi pasca letusan Gunung Kelud. Karena gereja itu mengalami kerusakan berat pasca letusan.       
Cerita Dari Satak
Tepat jam 07.40. kami memulai wawancara di Satak, dengan beberapa orang yang ada disitu, yang telah dihubungi sebelumnya. Rm. Armada memulai dengan memperkenalkan kami satu persatu, yang dimulai dari saya yang tepat berada di sampingnya. Setelah itu Rm. Armada mulai menjelaskan maksud dari kedatangan kami di lereng Gunung Kelud. Daerah Satak berjarak 11 Km dari puncak Gunung Kelud. Ketua Stasi mulai menceritakan kronologis peristiwa 13 Pebruari 2014 tepatnya pada hari kamis,(malam jumat) sekitar pukul 22.30. Di mana, malam itu terdengar suara letusan keras, yang membuat situasi menjadi panik, ditambah dengan gelapnya malam, sehingga yang nampak kelihatan adalah puncak Gunung Kelud yang menyemburkan api, lahar dingin dan lemparan batu-batu panas. Seperti disampaikan bahwa :
Letusannya waduh, yg pertama itu lemparan batu, kemudian hujan debu naik keatas diikuti bara api,kelihatan jelas sekali, putih-putih bara api naik keatas…sampai diatas seperti kembang api itu, cuar,cuar,cuar. Seperti bunyi genteng itu keras sekali,… arahnya kesana termasuk ke Suko Moro,Kebun Duren,Malang Ngantang itu arah kesana[1].
Situasi malam itu dipenuhi dengan rasa takut yang luar biasa, istri ketua stasi yang awalnya dipenuhi rasa penasaran untuk mau melihat letusan Gunung Kelud, malam itu menjadi sangat ketakutan ketika dia telah melihat letusan yang begitu dahsyat tersebut. “ternyata seperti itu dahsyatnya letusan Kelud”. Situasi ketakutan membuat suasana semakin panik. Malam itu menjadi malam yang mencekam penuh kegentaran. Semua orang berlari untuk mencari tempat berlindung yang aman dari lemparan batu panas dan terjangan lahar dingin dari puncak Gunung Kelud. Lemparan batu panas tersebut, akan menghancurkan apa saja yang terkena,bahkan genteng rumah pun bocor akibat lemparan batu panas tersebut. Kita tidak dapat membayangkan jika yang terkena lemparan batu panas itu adalah kepala manusia. Ditambah dengan hujan debu dan semburan pasir yang menambah suasana batin menjadi semakin tegang.
Malam itu semua penduduk yang ada di lingkar  Gunung Kelud mengungsi ke tempat yang telah ditetapkan sebelumnya yakni disebuah pabrik. Seperti yang disampaikan nara sumber bahwa: “Di Status siaga itu pihak desa suda menyiapkan titik kumpul Sehingga evakuasi warga ini memakan waktu 10 sampai 30 menit,semuanya terevakuasi.” Dalam waktu yang cepat, semua warga telah berhasil dievakuasi oleh para relawan yang sebagiannya adalah warga sekitar lingkar Gunung Kelud, yang tergabung dalam “Jangkar Kelud”[2] dan “Karina”[3]. Meskipun mereka menjadi korban, tetapi tidak berarti mereka berhenti untuk memberi perhatian pada sesama warga lain yang membutuhkan pertolongan. Ketakutan, telah digantikan oleh rasa kemanusiaan yang dalam, sehingga membuat mereka tidak berhenti untuk saling menolong satu dengan yang lainnya. Tidak ada lagi sekat primordialisme, tidak ada sekat agama, kaya, miskin yang ada hanya rasa untuk saling memberi pertolongan. Levinas menyebutnya sebagai relasi intersubyektif yang bersifat asimetris. Relasi Simetris tersebut dapat dipahami sebagai berikut yakni:
Artinya, etika atau ‘yang etis’ harus mulai dari satu relasi (1) antara satu orang dan seorang yang lain, dan bukan dari sebuah prinsip moral universal yang mengikat semua manusia; (2) yang bersifat asimetris, yakni bahwa sang Aku memiliki tanggung jawab tak terbatas terhadap orang lain. Apapun yang saya lakukan terhadap orang lain sebagai bentuk tanggung jawab saya tidak akan pernah cukup.[4]     
Semua orang berkumpul seperti satu keluarga dalam lingkar Gunung Kelud. Gunung Kelud yang telah mengancam jiwa anak manusia, dan meluluhlantakkan tanah pertanian, rumah, ternak dll, telah membuat warga menjadi satu kesatuan. Mereka berbagi makanan, air, meskipun mereka sama-sama membutuhkan makanan. Seperti yang dialami oleh beberapa warga ketika mereka mengantar makanan, mobil mereka dicegat oleh pengungsi yang lain untuk meminta makanan.  Tidak ada konflik karena harus berebut makanan, mereka semua seperti saudara yang saling memahami satu dengan yang lainnya. Seperti pertanyaan Rm. Armada, Apakah ada konflik ketika mendistribusikan makanan? oh nda ada, jadi, ya kalau diminta (makanannya) ya dikasikan, setelah itu kita sampaikan, bahwa yang disana juga membutuhkan makanan.” Dalam situasi lapar dan kondisi psikologi yang hancur, mereka tetaplah orang-orang beradab yang saling memberi perhatian. Mereka seperti bersedia menahan lapar demi untuk saudara mereka yang lain, yang juga membutuhkan makanan. Tidak seperti yang biasa kita lihat dalam pembagian sembako yang sering kali justru menelan korban jiwa.
Letusan Gunung Kelud nampaknya tidak bijak, jika kita hanya melihatnya dalam kondisi korban yang membutuhkan bantuan. Kelud meluluhlantakkan tetapi sekaligus mengingatkan masyarakat yang ada dilerengnya untuk tetap mengedepankan tanggung jawab terhadap sesama yang lain. Kita boleh menjadi korban, tetapi tidak berarti menghilangkan rasa kemanusiaan kita terhadap yang lainnya. Seperti diungkapkan oleh nara sumber bahwa: “mereka saling bergotong royong dalam memperbaiki rumah…bahkan sering mereka tidak tahu, tiba-tiba rumah mereka telah diperbaiki.” Tanggung jawab terhadap yang lain, membuat mereka melupakan kepentingan pribadi. Karena kepentingan kelompok menjadi sesuatu yang sangat penting. Menolong yang lain sama dengan menolong diri sendiri.
Sayang sekali bahwa di tengah situasi itu, ada saja kelompok-kelompok relawan yang tidak tulus dalam memberi pertolongan, ini ditandai dengan bendera-bendera yang mereka bawah. Bahkan ada relawan yang datang, hanya mau membantu yang satu agama dengan mereka. Tetapi warga setempat yang berada di lingkar Kelud, yang terkena erupsi Kelud, justru menjadi masyarakat yang memperlihatkan persaudaraan di antara sesama warga yang berbeda agama. Ini tentu menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang bagi mereka untuk saling menolong, tetapi yang membatasi dan membuat sekat-sekat justru lahir dari sebagian relawan yang datang dengan membawa simbol-simbol agama tertentu.
Letusan Kelud disebut oleh narasumber sebagai siklus 8 (delapan) tahunan. “Ketika tidak meletus pada tahun ke delapan, maka 16 tahun berikutnya, kalau tidak meletus, maka 24 tahun berikutnya, kalau juga belum meletus maka 32 tahun berikut.” Meskipun menurut mereka letusan Kelud sangat sulit diprediksi, seperti yang terjadi pada pebruari 2014, di mana sulit memprediksi akhirnya kita sedikit kesulitan dalam evakuasi, terutama evakuasi ternak. Hampir semua ternak ditinggalkan oleh pemiliknya, karena tidak lagi sempat untuk mengevakuasinya. Seperti disampaikan bahwa “karena sangat singkatnya waktu dari siaga ke awas itu akhirnya kalang kabut juga”. Perubahan status dari siaga ke awas yang begitu cepat, membuat warga tidak lagi mempedulikan barang ataupun ternak, yang paling penting waktu itu adalah bagaimana menyelamatkan diri dari terjangan erupsi. Akhirnya sekitar 30 menit, warga semua telah dievakuasi ke sebuah pabrik yang sebelumnya telah disiapkan.                                          
Cerita Dari Sukomoro
            Kisah ini kami dapatkan ketika kami berada di Gedung Gereja Katolik Sukomoro. Di sana ada beberapa orang narasumber yang telah siap menyambut kedatangan kami. Kami waktu itu langsung dipersilakan masuk ke dalam gedung gereja. Saya melihat gedung gerejanya seperti baru selesai di renovasi. Kami memulai perbicangan dengan beberapa orang narasumber. Percakapan dimulai dari salah seorang warga, yang menceritakan pengalamannya menghadapi letusan Gunung Kelud yakni pada tahun 1990 dan pada pebruari 2014. Pa Jono, demikian sapaan akrab dari salah satu narasumber yang kami wawancara. Dia mengisahkan bahwa sebelum erupsi, mereka telah mendapatkan arahan-arahan dari relawan, baik dari Karina pun dari Jangkar Kelud. Ke mana warga harus mengungsi ketika terjadi bencana, apa yang harus dibawah dll. Tetapi semua itu menjadi buyar, ketika letusan Kelud terjadi pada Pebruari 2014. Seperti diungkapkan pa Jono bahwa:
suda ada beberapa titik yang kami putuskan untuk nanti menjadi tempat pegungsian, tetapi semuanya buyar, tidak terduga sama sekali. Karena diperkirakan Sukomoro sini yang arahnya mengungsi ke Sumber Suko sekitar lima kilo, tapi justru sona amannya ya 20 kilo, jadi kami harus mengungsi. Letusan pertama, ya besar sekali, langsung mengeluarkan api, maka kami malam itu panik.Apalagi kejadiannya malam, lampu mati semua…akhirnya kami tidak memikirkan lagi tempat pegungsian yang telah ditetapkan. Kami tersebar ke mana-mana.[5]    
             Situasi malam itu sangat mendebarkan. Mereka menghindar dari lemparan batu yang panas di tengah gelapnya malam. Mereka berlari mencari tempat perlindungan yang aman dari terjangan lahar dingin dan lemparan batu panas dari puncak Kelud. Akhirnya, ditengah situasi yang menegangkan itu, yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 22.30, akhirnya kami berlari ke gedung gereja. Kami berkumpul sekitar 70 (tuju puluh) orang di dalam gedung gereja, tetapi, karena ketakutan dan rasa tidak aman, mengingat gedung gereja yang suda tua, akhirnya kami putuskan untuk berlari ke balai desa dengan menggunakan bangku gereja sebagai pelindung kepala kami dari terjangan hujan debu dan batu-batu panas.
            Tidak berapa lama, akhirnya kami sampai di balai desa. Seperti cerita pa Jono, bahwa di tengah perjalanan ke balai desa, mereka melihat pemandangan yang memiluhkan, di mana “banyak orang tua yg suda lanjut usia ditinggal keluarganya dipinggir-pinggir jalan”. Orang-orang tua (lansia) ini menangis dan berteriak minta tolong di pinggir jalan, mereka tidak tahu harus ke mana meminta pertolongan, mereka ketakutan yang luar biasa. Pa Jono bersama dengan beberapa orang yang baru saja sampai di balai desa, yang juga sedang mencari pertolongan untuk dievakuasi, melihat situasi yang memiluhkan ini, langsung menarik orang-orang tua tersebut untuk melakukan evakuasi bersama-sama. Kebetulan, waktu itu masih ada satu mobil truk yang tersisa, akhirnya para lansia tersebut dinaikkan ke truk untuk di evakuasi ke sebuah Sekolah Katolik dan Paroki yang terdekat, sambil pa Jono dan beberapa orang lainnya menunggu mobil lain untuk mengevakuasi mereka.
            Di sana tidak ada lagi pertanyaan siapa yang harus mereka tolong! Atau agama apa yang mereka harus tolong! Yang ada hanyalah perasaan tanggung jawab terhadap sesama anak manusia. Tanggung  jawab ini membuat mereka tergerak dan melepas semua atribut dan sekat-sekat primordialisme yang sering kali membentengi manusia dalam relasi dengan orang lain. Yang ada hanyalah relasi tanggung jawab terhadap sesamanya. Para lansia akan berterima kasih mendapatkan pertolongan, demikianpun si penolong akan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mendapatkan tanggung jawab tak terbatas dalam relasi dengan yang lain. Pa Jono bersama dengan beberapa warga menjadi orang terakhir yang di evakuasi dari Kelud.
            Lingkar Kelud pada waktu itu seperti desa mati, yang tidak berpenghuni. Semua warga mencari tempat yang aman bersama dengan keluarganya masing-masing. Peristiwa malam itu, nampaknya juga mengingatkan warga di lingkar Kelud, bahwa tidak ada yang lebih berharga dari nyawa seorang manusia. Barang berharga mereka tinggalkan, ternak tidak lagi dipedulikan, yang penting waktu itu adalah bagaimana nyawa bisa selamat.
            Beberapa hari setelah kejadian, warga mulai berani untuk naik mengambil ternak yang juga telah kelaparan karena tidak diberi makanan. Pa Jono menambahkan bahwa letusan Kelud pada 13 Pebruari lalu, lebih dahsyat dari letusan pada tahun 1990. Seperti yang dia ungkapkan “Pengalaman Saya ini suda dua kali pertama tahun 1990 dan yang kedua, kemarin Pebruari 2014. Kalau  tahun  1990 tidak separah ini, tetapi pada tahun 2014 pada tanggal 13 Pebruari itu memang saya rasakan, memang sangat dahsyat sekali letusannya”. Situasi ini tentu saja akan membuat siapapun yang ada disekitar lingkar Kelud akan mengalami ketakutan dan kepanikan yang luar biasa.
            Pada sisi yang lain, warga masyarakat tetap menghargai kearifan lokal yang ada. hal ini nampak kelihatan ketika erupsi terjadi. Sebagian besar warga dari beberapa perkampungan yakni dari Parangagung, Margomoyo, Prapatan, Sukomoro, mengungsi ke wilayah Sumber Suko, tepatnya di daerah yang mereka sebuat sebagai “Majapahit Lama”. Daerah tersebut dianggap sebagai daerah yang tidak akan dapat dikena erupsi Kelud. Meskipun jarak dari Majapahit Lama ke puncak Kelud bisa dikatakan masih cukup dekat, kira-kira 12 kilo dari puncak Kelud. Kearifan lokal mempercayai bahwa daerah tersebut tidak akan dapat kena bencana. Karena itulah ratusan tenda pengungsi di buat di daerah tersebut. Para penduduk yang ada diwilayah tersebut, membiarkan tanah mereka di tempati untuk dipasangi tenda para pengungsi. Tidak ada yang keberatan ketika tenda pengungsi mulai di didirikan di tanah mereka.
Relasi Asimetris
kenapa kok tidak ada pencurian, padahal kesempatan begitu besar? kalau mencuri milik temannya sama dengan mencuri milik sendiri. Seandainya saya mencuri  (kepunyaan bapak) sama dengan mencuri kepunyaan saya sendiri![6]
Nampak sang aku memperlihatkan sebuah relasi yang dalam dengan sesamanya. Relasi itu hanya terbangun, jika setiap orang mampu merasakan apa yang dirasakan oleh sesamanya. Relasi ini muncul dari sebuah kesadaran, melihat orang lain bagian dari diri sendiri. Etika wajah nampak hadir dalam ruang yang begitu menakutkan akibat erupsi Kelud yang meluluhlantakkan beberapa desa yang ada di lerengnya. Persis dalam situasi ini societas yang ada dilereng Kelud, memperlihatkan sesuatu yang berbeda, di mana mereka melihat wajah yang lain sebagai bagian dari dirinya. Tidak ada lagi pertanyaan siapa yang harus mereka tolong, atau agama apa yang harus ditolong! “kehadiran manusia bukanlah kehadiran entitas, melainkan kehadiran nilai-nilai. Dan, yang disebut manusia menurut Levinas adalah kehadiran wajah.”[7]
Kehadiran wajah yang lain, menunjukkan sebuah hubungan tanggungjawab. Mereka nampak tidak hanya melihat kehadiran manusia dalam kehadiran fisiknya, tetapi jauh melampaui itu. Kehadiran wajah yang lain dipandang dalam kehadiran nilai-nilai. “wajah adalah produsen nilai-nilai keluhuran manusia. Wajah menjadi representasi martabat.”[8]  Sikap menghormati kehadiran yang lain, bukanlah sebuah kepura-puraan, bukan pula dibalut oleh kepentingan tertentu, seperti yang dilakukan oleh beberapa relawan yang membawa bendera tertentu. Tetapi sikap menghargai yang lain sebagai bagian dari rasa tanggung jawab mereka terhadap sesamanya. Tanggunga jawab tak terbatas ini, benar-benar ditunjukkan dalam tanggungjawab bersama dalam saling membantu. Seperti diungkapkan dalam wawancara bahwa:
“Kerjasamanya pada saat setelah erupsi yang jelas, untuk warga masyarakat disini suda tidak membeda-bedakan lagi, untuk agama (apa agamanya). Kalau malam ya ronda bareng-bareng, kalau ada yang nga punya air saling memberi.”
Kehidupan menjadi sebuah relasi tak terbatas dengan orang lain. Setiap orang nampak menunjukkan orang lain adalah saudaranya, sehingga sekat-sekat primordial telah diputuskan oleh erupsi Kelud. Siapapun dilihat sebagai bagian dari diri sendiri. Sehingga kehadiran yang lain selalu mengugah hati nurani untuk memberinya pertolongan. Kehadiran yang lain selalu membuat seseorang terusik rasa kemanusiaannya. Situasi seperti ini bukanlah situasi yang dibuat-buat, tetapi sebuah kondisi yang terjadi secara alami. Di mana setiap warga yang ada dilingkar Kelud merasa tergugah rasa kemanusiaannya untuk memberi pertolongan pada sesamanya. Meskipun mereka sama-sama korban dari erupsi Kelud, yang sama-sama membutuhkan pertolongan, tetapi justru mereka menunjukkan tanggung jawab besar terhadap sesamanya.
Situasi ini misalnya terjadi dalam beberapa hal, misalnya: rumah warga yang di tinggal  kosong, tidak ada yang kecurian. Ini karena seubuah filosofi, bahwa mencuri kepunyaan tetangga sama dengan mencuri milik sendiri. Rasa kepedulian yang sangat besar terhadap sesamanya menjadikan mereka benar-benar menjadi satu keluarga. Tidak ada yang mengkuatirkan barang yang ditinggalkan akan dicuri. Mereka semua sepertinya saling mempercayai satu dengan yang lain.             
Refleksi Filofosis Teologis
            Erupsi Gunung Kelud menghajar dan mengajar! Mungkin ini kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi di lereng Gunung Kelud pasca erupsi. Bahwa erupsi Kelud, pada satu sisi menghancurkan semua yang ada di lerengnya, tetapi pada sisi lain mengajar mereka yang mau belajar. Wajah Kelud seperti berwajah ganda, disatu sisi nampak sangar dan menakutkan, ketika memuntahkan api dan lahar dingin. Tetapi pada sisi lain dia menjadi sangat ramah, dengan memberi kehidupan baru dengan kesuburan tanah bagi mereka yang ada di bawah lereng Kelud. Jauh lebih dalam dari itu, dia meninggalkan pelajaran berharga bagi manusia yang ingin belajar tentang relasi hidup dengan sesamanya.
            Di lingkar Kelud, ada sebuah pelajaran berharga, bagaimana relasi persaudaraan telah meruntuhkan tembok-tembok primordialisme. Persaudaraan menjadi sesuatu yang sangat berharga, sehingga yang lain rela memberi tempat bagi keselamatan yang lain demi untuk persaudaraan. Seperti yang diperlihatkan oleh beberapa orang, yang merelakan mobil untuk evakuasi dipakai oleh saudaranya yang lain untuk mengevakuasi mereka yang lebih tua (lansia). Mungkin ini dapat dimengerti dalam konsep sense of belonging. Seperti diutarakan dalam buku Aku dan Liyan bahwa:
Ia rela memberikan apa yang dibutuhkan oleh saudaranya tanpa mengharapkan balasan. Di sini bukan lagi masalah take ang give (mengambil dan memberi) sebagaimana prinsip khalayak umum dalam pertimbangan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, melainkan give and get (memberi dan mendapat). …Ketika aku memberi sesuatu untuk saudaraku, aku tidak mengambil atau meminta apapun darinya. Justru aku mendapatkan sesuatu dari perbuatanku, yaitu terjalinnya ikatan persaudaraan yang semakin erat dengan orang lain. Tindakan memberi menjadi sebuah aksi yang semata-mata hanya demi cinta dan kasih bagi saudarnya yang lain.[9]                          
            Memberi pertolongan kepada yang lain, tidak lagi dimaknai dalam konsep, akan mendapatkan sesuatu dari hasil pertolongannya. Karena yang ada adalah, manusia yang lain dilihat sebagai bagian dari diri sendiri. Di mana hal sama terungkap dari ungkapan salah seorang warga, yang memaknai bahwa mengambil barang yang lain sama dengan mengambil miliknya. Atau dengan kata lain, menyakiti yang lain sama dengan menyakiti dirinya sendiri. Relasi asimetris sungguh-sungguh telah menjadi hidup di tengah-tengah societas yang mengalami bencana erupsi Kelud. Bahkan para relawan yang datang dengan konsep take and give, nampaknya harus belajar pada mereka yang dianggap korban. Sehingga kembali dengan sebuah pandangan filosofis yang baru give and get.
            Relasi asimetris yang dihidupi oleh masyarkat lingkar Kelud, telah menampar mereka yang hidup dalam sikap primordialisme. Mungkin di sanalah contoh societas yang sesungguhnya. Di sana tidak ada kemunafikan, tetapi yang ada hanyalah ketulusan. Persaudaraan menjadi bagian hidup yang benar-benar hidup. Hidup tidak hanya dalam kata, tetapi dalam sikap dan tindakan kongkret. Di sana tidak ada objek, karena yang ada hanyalah hubungan tidak terpisah antara aku dan engkau. Hubungan yang begitu dekat tanpa sekat. Sebuah gambaran societas yang benar-benar hidup dalam sebuah persaudaraan dan sebuah tanggung jawab terhadap yang lain. Wajah yang lain telah menampilkan nilai baru yang melampaui wajah itu sendiri. Wajah yang lain itu dipandang sebagai cerminan kehadiran diri sendiri. Karena itulah, dapat dimengerti ketika mereka saling menolong, maka tidak ada kepentingan di balik semua pertolongan yang diberikan. Mereka tulus melakukan semuanya, karena yang lain adalah bagian dari diri mereka sendiri. Yang lain tidaklah dipandang sebagai objek, tetapi dipandang dalam relasi yang sangat dalam, di mana kata-kata pun tidak cukup untuk mengungkapkannya. Relasi itu disebut oleh Levinas sebagai relasi asimetris.
            Relasi yang dibangun ini, juga telah menampar mereka yang menyebut diri hidup dalam persaudaraan se-iman. Bahkan tidak salah jika penulis mengatakan telah mempermalukan mereka yang melihat saudara hanya dalam bingkai se-agama. Wajah Yesus pun hadir di sana dan mengingatkan kita, bahwa yang disebut saudara, bukan hanya mereka yang satu agama dengan kita, bukan hanya mereka yang satu suku, tetapi jauh melampaui semuanya itu (bdk.Lukas 10 25-37. Perumpamaan orang Samaria yang murah hati). Mereka yang disebut saudara adalah mereka yang lemah, tertindas dan sedang membutuhkan uluran tangan kita.
Kelud telah memberi sebuah pelajaran berharga dalam melihat sesama. Di sanalah persaudaraan dan persahabatan yang sejati, karena dibangun atas dasar kemanusiaan. Armada Riyanto dalam buku Katolisitas Dialogal menyebut “…persahabatan langsung merujuk pada keutamaan manusiawi. Persahabatan mencetuskan kesetiakawanan, kebersamaan, kerukunan, kekerabatan, ketetanggaan, kekeluargaan dan yang sejenisnya.”[10]  Societas lingkar Kelud memperlihatkan semua jenis persahabatan tersebut. Karena mereka memulainya dalam sudut pandang, wajah yang lain adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka telah memperlihatkan dan mengajar kita bagaimana harus membangun relasi asimetris.           
          






Kepustakaan:
1.      Armada Riyanto, E. Befilsafat Politik, Yogyakarta, Kanisius 2011.

______________, Katolisitas Dialogal, Ajaran Sosial katolik. Yogyakarta, Kanisius 2014.

______________, dkk (editor). Aku dan Liyan, Kata Filsafat dan Sayap. Malang,   Widya Sasana Publication, 2011.

2.      Hidya Tjaya,Thomas. Enigma Wajah Orang Lain, menggali pemikiran Emmanuel Levinas. Jakarta, Keputakaan Populer Gramedia (KPG) 2012.






[1] Wawancara dengan ketua stasi di Satak
[2] Jangkar Kelud adalah organisasi yang dibentuk oleh organisasi kapal layar Indonesia dari Yogya, yang bertujuan untuk memberi pelatihan-pelatihan kebencanaan (manajemen bencana) kepada warga sekitar lingkar Kelud. (Informasi dari salah seorang anggota lingkar Kelud yang ada di Satak).
[3] Karina:Caritas Indonesia, adalah organisasi yang bergerak dalam memberi dukungan bagi masyarakat yang mengalami tekanan, bencana, kemiskinan dan sejenisnya.
[4] Thomas Hidya Tjaya. Enigma Wajah Orang Lain, menggali pemikiran Emmanuel Levinas. Jakarta: Keputakaan Populer Gramedia (KPG), 2012. Hlm. 95
[5] Wawancara dengan Pa Jono di Gedung Gereja katolik Sukomoro
[6] Wawancara dengan salah satu nara sumber di Satak pada minggu 2 Nopember 2014
[7] E. Armada Riyanto, Befilsafat Politik, Yogyakarta: Kanisius, 2011, hlm 78
[8] Ibid hlm 78
[9] Armada Riyanto dkk (Editor), Aku dan Liyan,Kata Filsafat dan Sayap.Malang : Widya Sasana Publication,2011, Hlm 172
[10] Armada Riyanto. Katolisitas Dialogal, Ajaran Sosial katolik. Yogyakarta: Kanisius 2014.  Hlm 125

Teodise (Pembenaran Tuhan): Dialog dengan Leibniz di Masa Pandemi Covid-1

Pertanyaan tentang realitas kejahatan di dunia bukanlah pertanyaan yang baru muncul di dunia post modern. Pertanyaan ini pertama kali ditany...